PERBAIKI PERAHU : Cuaca yang tak menentu membuat para nelayan di Pantai Bandengan, Kendal tak melaut dan menyandarkan perahunya. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PERBAIKI PERAHU : Cuaca yang tak menentu membuat para nelayan di Pantai Bandengan, Kendal tak melaut dan menyandarkan perahunya. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KENDAL — Cuaca buruk dengan angin kencang dan gelombang air laut yang tinggi hingga 3 meter dalam sepekan ini, menyebabkan nelayan tak berani melaut. Pasalnya, tinggi gelombang tersebut sudah melebihi batas aman bagi nelayan untuk melaut.

“Saat ini, tidak ada nelayan yang melaut. Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tawang yang biasanya ramai orang berjualan ikan hasil tangkapan, kini sepi. Yang ada hanya beberapa nelayan yang memantau cuaca laut melalui papan informasi yang selalu diperbarui oleh Pihak BMKG teks LED berjalan,” kat Kepala Pelabuhan Kapal Ikan Dukuh Tawang Desa Gempolsewu, Rowosari, Imam Kadarusman, Jumat (19/1) kemarin.

Selain cuaca ekstrim, jelasnya, disusul akan adanya siklon atau sebuah wilayah atmosfer bertekanan rendah yang bercirikan pusaran angin yang berputar di tengah perairan laut. Ada dua prediksi siklon yang muncul yakni siklon cempaka dan dahlia. “Siklon ini mengakibatkan ombak besar melebihi batasan normal. Biasanya maksimal ombak tertinggi bagi nelayan tradisional adalah 1,5-2 meter. Tapi sekarang ini bisa mencapai 2-3 meter lebih. Sehingga nelayan memilih tidak melaut,” tandasnya.

Tingginya gelombang laut sebenarnya sudah dimulai sejak Desember. Tapi saat tengah Desember, gelombang sempat normal kembali. “Pekan kedua bulan ini gelombang kembali tinggi,” tambahnya.

Di Tawang sendiri ada 1.000 lebih perahu yang akhirnya hanya bersandar di tepi pantai menunggu cuaca laut aman. “Hanya perahu besar atau kapal tongkang yang berani melaut, itupun jumlahnya beberapa saja,” imbuhnya.

Hal serupa terjadi di Nelayan Bandengan, Kecamatan Kota Kendal. Lurah Bandengan, Mujiono mengatakan jika hampir 95 persen nelayan di Bandengan tidak ada yang melaut. “Kalaupun ada yang melaut, kebanyakan merugi karena cuaca yang buruk dengan gelombang dan angin kencang,” kata Mujiono.

Karena itu, Mujiono berharap, para nelayan untuk selalu mengikuti perkembangan cuaca dari BMKG. Jangan sampai ada nelayan yang nekat melaut dalam kondisi yang membahayakan.

Sementara Bupati Kendal Mirna Anissa menyikapi kondisi nelayan di Kendal yang tengah terpuruk, memberikan bantuan beras. Selain itu, mengkoordinir jajaran pimpinan Pemkab Kendal (Sekda dan para kepala OPD ) mengumpulkan beras untuk diberikan pada nelayan yang tidak bekerja. “Secara spontan kami berembug turut membantu masyarakat yang terdampak harga beras dan terdampak cuaca. Akhirnya diputuskan dengan memberikan bantuan beras pada para nelayan Kabupaten Kendal,” kata Mirna. (bud/ida)