Restauran dan Industri Jins Gunakan Elpiji 3 Kg

Tim Gabungan Sidak Elpiji Langka

612
SIDAK ELPIGI : Disperindag dan Koperasi UMKM Kabupaten Pekalongan, Polres Pekalongan, dan Satpol PP Kabupaten Pekalongan, sidak penggunaan gas elpiji 3 kilogram terhadap rumah makam, usaha cucian jins dan usaha lainnya di Kabupaten Pekalongan, Jumat (19/1) kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SIDAK ELPIGI : Disperindag dan Koperasi UMKM Kabupaten Pekalongan, Polres Pekalongan, dan Satpol PP Kabupaten Pekalongan, sidak penggunaan gas elpiji 3 kilogram terhadap rumah makam, usaha cucian jins dan usaha lainnya di Kabupaten Pekalongan, Jumat (19/1) kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Kelangkaan gas elpigi ukuran 3 kilogram telah terjadi sepekan terakhir. Penyebabnya, lantaran banyak industri usaha cucian jins dan restoran menggunakan gas elpiji ukuran 3 kilogram. Padahal gas elpigi 3 kilogram tersebut, diperuntukkan bagi rumah tangga miskin, bukan untuk industri usaha UMKM.

 

Kondisi tersebut terungkap setelah dilakukan inspeksi mendadak (sidak) oleh Dinas Perindustrian Perdagangan (Disperindag) dan Koperasi UMKM Kabupaten Pekalongan, Polres Pekalongan, dan Satpol PP Kabupaten Pekalongan, Jumat (19/1) kemarin.

 

Mustain, 34, pemilik rumah makan atau restauran ini mengaku bahwa pihaknya sudah tiga bulan terakhir, tidak lagi menggunakan gas elpigi ukuran 5 kilogram, karena pengujung rumah makannya mulai sepi. Sedangkan harga gas elpigi 5 kilogram naik dari Rp 64 ribu menjadi Rp 75 ribu.

 

Untuk mensiasati agar usaha rumah makannya tetap jalan, dalam proses memasak tidak lagi menggunakan gas elpiji 5 kilogram. Untuk menekan biaya produksi, menggunakan gas elpigi 3 kilogram yang harga hanya Rp 18 ribu.

 

“Sejak order pengunjung menurun, saya menggunakan gas elpigi ukuran 3 kilogram, agar usaha kami bisa tetap bertahan. Namun kalau dilarang dan harus menggunakan gas elpiji ukuran 5 kilohgram, kami mengikuti aturan tersebut,” kata warga Desa Kulu, Kecamatan Karanganyar.

 

Menanggapi hal tersebut, Kasubag Humas Polres Pekalongan, AKP M Dahyar, mengatakan bahwa hasil sidak dari 4 lokasi usaha yang dikunjungi, 3 usaha merupakan restoran atau rumah makan di wilayah Kecamatan Karanganyar. Satu di antaranya masih menggunakan gas elpigi 3 kilogram.

 

Sedangkan rumah makan yang masih menggunakan gas 3 kilogram tersebut, langsung berpindah menggunakan gas elpigi 5 kilogram. Sementara usaha laundry, sebagian besar menggunakan kayu bakar, tidak lagi menggunakan gas elpigi. “Usaha laundry di Desa Pegaden Tengah, hampir seluruhnya menggunakan mesin boiler atau mesin uap dengan bahan bakar kayu. Menurut penuturan para pekerja, hasilnya lebih bagus meski prosesnya lebih lama dibandingkan memakai bahan bakar elpiji untuk pengapian,” katanya. (thd/ida)