CEK ALAT BERAT : Ketua Komisi C DPRD Jateng Asfirla Harisanto didampingi Kepala BPTJ Wilayah Purwodadi, Barkah Widiharsono mengecek kondisi alat berat milik Balai. (Ricky fitriyanto/jawa pos radar semarang)
CEK ALAT BERAT : Ketua Komisi C DPRD Jateng Asfirla Harisanto didampingi Kepala BPTJ Wilayah Purwodadi, Barkah Widiharsono mengecek kondisi alat berat milik Balai. (Ricky fitriyanto/jawa pos radar semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang diperoleh Balai Pelaksana Teknis Jalan (BPTJ) Wilayah Purwodadi di tahun 2017 turun drastis dibanding tahun sebelumnya. Jika PAD tahun 2016 sebesar Rp 759,8 juta, menjadi hanya Rp 401,2 juta pada tahun 2017.

Ketua Komisi C DPRD Jateng Asfirla Harisanto meminta Balai BPTJ Wilayah Purwodadi bekerja kreatif dan inovatif dalam menggali aset yang dimiliki untuk dioptimalkan pendapatannya. Meski ada sebagian ruas jalan yang potensial menghasilkan PAD beralih status menjadi jalan kabupaten sejak tahun lalu.

Asfirla menyatakan keheranannya melihat target sewa alat berat tahun 2017 sebesar Rp 21,5 juta gagal direalisasi serupiah pun, alias nol. Padahal tahun sebelumnya realisasinya mencapai 127,9 persen dari target atau sekitar Rp 25,58 juta. “Saya minta dijelaskan mengapa hal ini bisa terjadi,” tegasnya usai memimpin kunjungan kerja monitoring pendapatan di BPTJ Wilayah Purwodadi, belum lama ini. Menurutnya, dengan program perbaikan infrastruktur yang dicanangkan Pemprov, seharusnya pendapatan dari sewa alat berat menjadi tinggi.

Anggota Komisi C DPRD Jateng Sarwono yang juga berasal dari PDI Perjuangan menambahkan, penerimaan hasil dari penebangan pohon saat ini bisa dilipatgandakan. Sebab harga kayu, terutama sonokeling sedang tinggi. Dia menyarankan agar ada survey atau pemetaan jenis pohon yang ditanam di pinggir jalan provinsi sepanjang 354,99 kilometer di BPTJ Wilayah Purwodadi.

“Jika ada pohon sonokeling posisinya tidak mengurangi kekuatan jalan, maka bisa ditebang untuk dijual kayunya. Sudah tentu setelah penebangan harus ditanami kembali dengan jenis pohon yang sama atau jenis lain yang bisa berfungsi sebagai peneduh jalan,” katanya.

Dia mencontohkan, baru-baru ini dirinya menjual dua pohon sonokeling diameter 30-40 centimeter laku Rp 40 juta.

Anggota Komisi C DPRD Jateng Ahmad Ridwan menimpali, BPTJ perlu hati-hati terkait penebangan pohon. Selain hal itu biasanya dilakukan saat ada proyek pelebaran jalan, maka jika penebangan dilakukan tidak boleh menimbulkan kesan Pemprov meningkatkan PAD dengan menebangi pohon peneduh jalan. “Itu harus dijaga betul, ditengah ramainya penanaman pohon di sepanjang jalan pantura oleh swasta untuk memperkuat struktur dan peneduh jalan,” katanya.

Ridwan malah mengusulkan agar BPTJ kreatif mencari sejumlah titik strategis di ruas jalan yang bisa dimanfaatkan swasta atau industri untuk beriklan. “Pasti ada di ruas jalan sepanjang 350 kilometer lebih. Nah titik-titik itu bisa ditawarkan dengan harga miring, saya yakin ada yang berminat. Dari situ akan ada tambahan pendapatan,” ujarnya.

Untuk diketahui, BPTJ Wilayah Purwodadi pada tahun 2016 ditarget PAD sebesar Rp 406,6 juta dan terealisasi 186,87 persen atau Rp 759,8 juta. Akan tetapi tahun lalu realisasinya hanya 91,73 persen, atau Rp 401,2 juta dibanding target sebesar Rp 437,4 juta. (ric)