BRT Konversi ke Bahan Bakar Gas

282
UJI EMISI : BRT Trans Semarang yang saat ini masih menggunakan BBM Solar. (DOK JAWA POS RADAR SEMARANG)
UJI EMISI : BRT Trans Semarang yang saat ini masih menggunakan BBM Solar. (DOK JAWA POS RADAR SEMARANG)

“Ada beberapa tempat yang telah disurvei. Untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga matahari telah dilakukan survei di beberapa SD di Kota Semarang. Membutuhkan lahan seluas 200 meter persegi guna membangun alat pembangkit listrik dari Mitsubishi,”

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Satu lagi program inovasi dalam bidang energi sedang digodog untuk dikembangkan di Kota Semarang. Tidak main-main, ada tiga program sekaligus yakni konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang dari solar ke gas.

Selanjutnya adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga matahari (solar cell) untuk sekolah. Terakhir, pembangkit listrik tenaga air (PLTA-micro hidro) penghasil listrik untuk pemukiman warga Kota Semarang.

Tiga program inovasi bidang energi tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang bekerjasama dengan Pemerintah Kota Toyama Jepang. Memorandum of Understanding (MoU) untuk program tersebut telah dilakukan pada Desember 2017 lalu. Tim dari Toyama Jepang juga telah melakukan survei tahap awal untuk merealisasikan program tersebut.

“Ada beberapa tempat yang telah disurvei. Untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga matahari telah dilakukan survei di beberapa SD di Kota Semarang. Membutuhkan lahan seluas 200 meter persegi guna membangun alat pembangkit listrik dari Mitsubishi,” kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, kemarin.

Hendi sapaan akrab Hendrar Prihadi mereferensikan dua SD dan dua SMP. Kalau ujicoba teknologi ini berhasil, nantinya tidak menutup kemungkinan akan dikembangkan di sekolah-sekolah lain di Kota Semarang. Sedangkan untuk konversi solar ke gas, tim dari Toyama Jepang telah melakukan survei di BRT Trans Semarang. “Koridor I sebagai pilot project proses konversi bahan bakar dari solar ke gas. Untuk mesinnya nanti, menggunakan teknologi dari PT Gasindo,” katanya.

Tahap ujicoba pertama, lanjutnya, ada 25 BRT dilakukan upaya penggantian dari bahan bakar solar ke gas. Selanjutnya dilakukan riset dan analisis untuk mengetahui seberapa manfaatnya, apakah polusinya berkurang, tenaga bus menurun atau tidak dan seterusnya.

“Jika memang hasilnya bermanfaat, bisa bergeser ke bahan bakar gas. Selanjutnya dikembangkan ke Koridor II, Koridor III dan lain-lain. Harapannya manfaatnya bisa dirasakan masyarakat,” terang Hendi.

Sedangkan program pembangunan instalasi pembangkit listrik tenaga air, tim dari Toyama Jepang telah melakukan survei di Bendungan Gripik dan Bendungan Sumur Rejo, Gunungpati Kota Semarang. “Ini sebagai penjajakan terkait penerapan pembangkit listrik micro-hidro. Harapannya, tenaga air ini menghasilkan listrik yang bisa dimanfaatkan oleh warga di sekitar lokasi. Saya optimistis, pengerjaan tiga program ini akan berjalan pada Agustus nanti,” katanya.

Persoalannya, lanjut Hendi, perlu adanya dana pendampingan. Pihaknya nanti akan reschedule waktu, paling tidak Agustus untuk mewujudkan hasil survei yang dilakukan baru-baru ini.

Kepala Lembaga Kebijakan Pemerintah Kota Toyama Jepang Koshin Takata menyatakan bahwa ini merupakan proyek kerjasama pertama dengan Pemkot Semarang. “Kami berharap tahun ini bisa segera terealisasi. Toyama dan Semarang sama-sama terpilih dalam 100 Reseller City sehingga kami ada kedekatan,” katanya.

Program ini merupakan subsidi dari pemerintah Jepang untuk Pemkot Semarang. Dari tiga proyek tersebut, masing-masing akan mendapatkan nilai subsidi berbeda-beda. (amu/ida)

Silakan beri komentar.