Auliya Hijri Al-Faqih (ISTIMEWA)
Auliya Hijri Al-Faqih (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM – Tak ingin merepotkan orang tua dan keluarga, Auliya Hijri Al-Faqih, mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, senantiasa bekerja keras. Ia pun rela menjadi driver Gojek, meski tetap aktif di organisasi dan menjaga hafalan Alquran. Seperti apa kesibukannya?

MUHAMMAD ISMAIL LUTFI

FAQIH, merupakan salah satu mahasiswa yang menjadi driver Gojek Semarang. Kesehariannya, ia pulang pergi kuliah sambil mencari pelanggan Gojek yang siap di antarnya kemana saja. “Sebagai driver Gojek, saya mendapatkan banyak pelajaran sosial di jalanan. Karena harus berhadapan dengan banyak orang yang menjadi pelanggan saya setiap hari,” kata mahasiswa semester enam FSH UIN Walisongo Semarang ini.

Faqih mengaku mulai bergabung dengan Gojek sejak libur semester empat setahun yang lalu. Kali pertama menjai driver Gojek, ada pengalaman yang tak terlupakan. “Saya pernah mendapatkan order Go Food, tapi harus dikirim sampai Kendal pada malam hari. Itu pengalaman pertama saya, ada ras was-was dan agak bagaimana. Tapi karena ini pekerjaan pertama saya, tetap saya jalani sesuai orderan,” jelasnya.

Setelah itu, Faqih tak kapok, justru merasa tertantang. Menurutnya, menjadi driver Gojek, kerjanya jauh lebih fleksibel dan bisa menyesuaikan waktunya dengan aktivitas yang padat.

Ternyata, pemuda asli Semarang kelahiran 1994 ini, tergolong seorang aktifis. Selain harus harus kuliah dan bekerja sebagai driver Gojek, ia juga aktif di berbagai organisasi mahasiswa. Dia menjadi Ketua Bidang (Kabid) Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Kepemudaan (PTKP) pada Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Tak hanya itu, dia juga menjadi ketua cabang Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Semarang. “Selain aktivitas saya sebagai driver Gojek, saya juga aktif di berbagai organisasi kepemudaan tingkat nasional,” ujarnya.

Faqih terbilang piawai membagi waktu. Meski bekerja, namun kuliah bisa berjalan lancar dan organisasi tidak terbengkalai. “Alhamdulillah, sampai saat ini masih aman-aman saja. Tidak ada aktivitas yang terbengkalai atau bahkan kalah dengan aktivitas lainnya. Prinsipnya, saya menjadikan semua aktivitas saya, sesuatu yang mudah,” tuturnya.

Hal itu dibuktikan dengan nilai indeks prestasi komulatif (IPK) tiap semesternya, rata-rata di atas 3,5. Selain itu, selalu mendapatkan beban mata kuliah maksimal yaitu 24 SKS (Sistem Kredit Semester). Bahkan, ia bertekad ingin menjadi lulusan tercepat agar bisa segera melanjutkan studi S2 di Universitas Indonesia (UI).

Karena itulah, meski tempat tinggal orangtuanya di sekitar Jalan Pemuda Kota Semarang, Faqih lebih memilih tinggal di asrama mahasiswa Monash Institute di Ngaliyan Kota Semarang. “Kalau saya pribadi lebih senang hidup di asrama dengan teman-teman sebaya saya. Di asrama, saya bisa belajar ilmu agama lebih dalam,” tutur anak pasangan Sri Mulyatun dan Usman Subagyo ini.

Padahal Faqih merupakan salah satu mahasiswa yang telah menghafalkan Alquran dan sudah mendapatkan gelar Al-Hafidz. Makanya, untuk menjaga hafalan Alquran-nya agar tak terlupakan oleh kesibukan kerja dan belajar, saat menjadi driver Gojek tetap melantunkan ayat-ayat Alquran saat memboncengkan pelanggannya. “Meski bekerja, saya tetap berusaha menjaga hafalan saya dimanapun berada. Termasuk saat mengantar pelanggan, sepanjang jalan bisa tetap menghafal Alquran,” jelasnya.

Lantas bagaimana mengatasi padatnya aktivitas dan kelelahan ? Jawabannya sederhana, cukup dengan tidur. “Dibilang capek atau tidak, ya pastinya ada capeknya. Biasanya kalau capek, saya buat tidur, begitu bangun, alhamdulilah langsung hilang,” pungkasnya. (*/ida)