Spirit Korporatisasi BUMN

Must Read

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau...

RADARSEMARANG.COMHampir dua tahun sejak dikeluarkannya, belum ada tanda-tanda pemerintah akan merealisasi PP Nomor 72 Tahun 2016 tentang Perubahan PP Nomor 44 Tahun 2005 tentang Tata Cara Penyertaan dan Penatausahaan Modal Negara Pada BUMN dan Perseroan Terbatas. Yang menekankan pentingnya holding company bagi perusahaan-perusahaan negara. Khususnya yang in line usahanya. Bahkan yang terjadi justru sebaliknya, banyak kasus hukum yang menjerat eksekutif BUMN. Kok bisa ya?

Powerhouse

Ya. Tanpa bermaksud skeptis, harus diakui, keinginan pemerintah untuk membangun powerhouse memang tidak cukup bermodalkan peraturan diatas. Terkesan seolah untuk membangun powerhouse bisa dilakukan hanya dengan menggelembungkan ekuitas sebuah perusahaan “baru” hasil merger BUMN. Khususnya yang bergerak dibidang minyak dan gas, pertambangan, perbankan, jalan tol dan konstruksi, perumahan, serta pangan.

Padahal, menurut Kasali (2008), powerhouse tidak bisa hanya didefinisikan sebagai perusahaan besar. Tapi sebagai entitas yang selalu berinovasi untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Memberi kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi. Dan menjadi simbol kemajuan bangsa.

Itu sebabnya, di berbagai negara, powerhouse ditahbiskan sebagai lokomotif pembangunan. Bahkan semakin banyak dan beragam jenisnya semakin maju pula negaranya. Karena itu tidak mengherankan jika banyak negara ingin membangun powerhouse.

Baik dengan menghandalkan sumber daya alamnya (resources-based). Seperti Malaysia dengan Petronas, Saudi Arabia dengan Saudi Aramco, dan Brazil dengan Petrobras. Maupun dengan memanfaatkan teknologi (knowledge-based) dan sumberdaya manusia (people-based). Seperti, sebagai contoh, Amerika Serikat dengan Microsoft. Jerman dengan Mercedez. Korsel dengan Samsung. India dengan Bajaj. Maupun Jepang dengan Toyota.

Lantas, bagaimana dengan BUMN? Entitas ini sebenarnya mempunyai potensi menjadi powerhouse. Karena rata-rata merupakan perusahaan besar. Dengan kapitalisasi trilyunan. Mempunyai ribuan karyawan. Tercatat di bursa efek. Bahkan ada yang menjadi negara ini.

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini hadir dengan keunggulan internal memori...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau SARS 18 tahun lalu. SARS: yang...

Wajah Baru Warnai Ofisial Tim PSIS

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – PSIS Semarang resmi memperkenalkan ofisial tim musim depan. Terdapat beberapa nama baru yang akan bahu-membahu membantu pelatih Dragan Djukanovic mengarsiteki Mahesa Jenar...

Lomba Cepat

Berita buruknya: korban virus Wuhan bertambah terus. Sampai kemarin sudah 106 yang meninggal. Hampir semuanya di Kota Wuhan --ibu kota Provinsi Hubei.Berita baiknya: yang...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -