DILIMPAHKAN KE BNN : Empat tersangka yakni Kepala Rutan Purworejo Cahyono Adhi Satriyanto, Sancai, Charles dan Saniran dibawa ke Jakarta untuk penyelidikan oleh BNN Pusat, Selasa (16/1) kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DILIMPAHKAN KE BNN : Empat tersangka yakni Kepala Rutan Purworejo Cahyono Adhi Satriyanto, Sancai, Charles dan Saniran dibawa ke Jakarta untuk penyelidikan oleh BNN Pusat, Selasa (16/1) kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Kepala Rutan Kelas II B Purworejo, Cahyono Adhi Satriyanto (CAS) yang ditangkap Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng dan Tim Direktorat TPPU BNN diduga kuat menerima aliran uang dari narapidana narkotika hingga Rp 313.500 juta. Uang tersebut terkumpul dari 17 transaksi dengan napi bernama Christian Jaya Kusuma alias Sancai.

“Ada 17 transaksi selama menjabat di Lapas Narkotika Nusakambangan, sampai menjadi Kepala Rutan di Purworejo, sejak Oktober,” kata Kabid Berantas BNNP Jateng, Suprinarto kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (15/1) kemarin.

Dari pengungkapan ini, selain menangkap Sancai dan CAS, BNNP Jateng juga telah mengamankan empat orang. Masing-masing bernama Charles Cahyadi, warga Kalimantan, yang tak lain adalah tangan kanan Sancai. Perannya mendapat perintah dari Sancai, kemudian menyuruh Saniran untuk membuka rekening guna menampung uang dari hasil bisnis narkotika Sancai.

Charles dan Saniran ini berhasil ditangkap petugas gabungan setelah melakukan pengejaran hingga ke Banjarmasin Kalimantan, 11 Januari 2018. Selain itu, ditemukan barang bukti 2 emas batangan seberat 500 gram dan 850 gram, termasuk uang tunai Rp 400 juta yang disimpan di safety box Bank Panin Banjarmasin.

“Kemudian dua orang lainnya warga sipil. Yakni, Suhartinah, warga Wonosobo dan Sunarso warga Cilacap, pemilik atas nama rekening yang digunakan untuk transaksi aliran dana ke CAS,” bebernya.

Sedangkan dana yang diperoleh CAS dari Sancai, antara lain diberikan kepada keluarganya, pembelian tiket pesawat, pembayaran penginapan hotel, menjamu tamu di restoran, membeli televisi untuk Rutan Purworejo, membeli sepatu dengan merek terkenal, membeli jersey untuk motor cross, membeli kalung kesehatan serta kebutuhan pribadi lainnya. “Yang jelas jaringan ini besar, masih kami dalami sejauh mana aliran dana narkoba ini, termasuk jaringan yang di atasnya,” katanya.