Theaching Factory, Paradigma Sekolah Kejuruan di Indonesia

337
Oleh: Moh Rozi SPd
Oleh: Moh Rozi SPd

RADARSEMARANG.COM РSEKOLAH Kejuruan itu menghasilkan lulusan yang tidak kompeten dan menghasilkan pengangguran. Pertanyaan tersebut merupakan salah satu bentuk dari banyak persoalan yang masih hadir di sekolah kejuruan di Indonesia. Salah satu persoalan utama yang ada adalah ketimpangan antara tuntutan  industri selaku konsumen lulusan dari sekolah kejuruan dengan kenyataan yang dapat diberikan oleh sekolah kejuruan selaku produsen SDM tingkat menengah tersebut. Hal ini akan berimbas pada kenyataan yang ironis yaitu lulusan sekolah kejuruan yang begitu besar tidak dapat diserap di Industri bukan dikarenakan tidak tersedianya lowongan tapi dikarenakan kualifikasi lulusan yang tidak sesuai tuntutan Industri

Teaching factory sebagai paradigma baru memberikan secercah harapan untuk meminimalkan ketimpangan yang ada antara tuntutan industri dengan kemampuan sekolah kejuruan. Paradigma ini mempertemukan industri dan sekolah kejuruan sejak dalam tingkat perencanaan, proses pembelajaran, hingga proses evaluasi pembelajaran. Pembuatan kurikulum merupakan bidang garapan pada tahap perencanaan. Mekanisme proses belajar mengajar dengan segenap kelengkapanya sebagai bidang garapan pada proses pelaksanaan. Bidang garapan terakhir dilakukan pada mekanisme evaluasi yang didalamnya termasuk mekanisme uji kompetensi.

Teaching factory untuk sekolah kejuruan memerlukan tiga elemen pokok yaitu pertama yaitu ruang kelas yang merepresentasikan peserta didik dengan ruangnya, kedua industri yang merepresentasikan engineer atau pakar ahli dan yang terakhir adalah transmitter yang merepresentasikan  atau tempat memperoleh pengalaman langsung.

Kolaborasi ketiga elemen tersebut bisa dilakukan dalam dua bentuk yaitu pertama industri yang dihadirkan disekolah dan yang kedua sekolah yang dihadirkan ke industri. Dalam bentuk pertama para praktisi dari industri dihadirkan dalam pembelajaran disekolah sedangkan dalam bentuk kedua, para guru dan siswa diberi kesempatan untuk magang dan belajar di Industri.

SMKN 7 Semarang sebagai salah satu sekolah kejuruan yang telah menerapakan paradigma teaching factory dapat dijadikan parameter pembanding bagi sekolah-sekolah yang berkeinginan menerapkan teaching factory tersebut. Kolaborasi pembuatan kurikulum antara sekolah dan industri, siswa magang ke industri, guru magang ke industri, MOU antara sekolah dan industri, uji kompetensi oleh pihak industri merupakan beberapa bentuk agenda teaching faktor yang telah dilakukan di SMKN 7 Semarang.

Lulusan sekolah kejuruan memiliki kompetensi yang baik dan terserap oleh industri merupakan ungkapan yang diharapkan kedepan sebagai imbas dari penerapan paradigma teaching factory. Ini merupakan ending yang bahagia dan diharapkan oleh semua pihak baik negara, masyarakat maupun industri. Negara selalu pengelola pendidikan merasa tidak sia-sia investasinya di sekolah menengah kejuruan diseluruh wilayah indonesia, masyarakat merasa puas yangmana putra putrinya yang disekolahkan disekolah kejuruan dapat memperoleh pekerjaan yang layak. Pihak industri merasa puas karena kebutuhanya atas tenaga kerja yang kompeten dapat terpenuhi.

Takkalah penting dari semua itu, manajemen sekolah dalam menyiapkan lulusannya. Bagaimanapun juga dunia industry akan menerima jika ada kualitas yang diharapkan. Maka lulusan SMK dengan kompetensi yang ada menjadi dambaan industri-industri. Kedepan perlupengelolaan manajemen sekolah dan keahlian yang baik. Perlu melibatkan stakeh older yang harmonis dan mampu memberikan kontribusi positif. Jika semua dilakukan dengan baik, maka lulusan SMK akan menjawab tantangan kebutuhan tenaga kerja. (tj3/bas)

Guru SMK Negeri  7 Semarang