Tanamkan Nilai Moral dan Kelestarian Alam

Suryo Cahyono dan Teguh Arif Romadhani, Pembuat Wayang Gebog

325
KREATIF: Teguh Arif Romadhani saat pentas wayang gebog di hadapan anak-anak. (DOKUMEN PRIBADI)
KREATIF: Teguh Arif Romadhani saat pentas wayang gebog di hadapan anak-anak. (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – Suryo Cahyono dan Teguh Arif Romadhani menyulap gedebok pisang menjadi wayang. Namanya Wayang Gebog. Wayang ini menjadi media hiburan sekaligus pendidikan bagi anak-anak. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

WAYANG yang dibuat Suryo Cahyono dan Teguh Arif Romadhani ini memang tidak seperti biasanya. Keduanya membuatnya dengan gedebok pisang dan potongan bambu. Dua bahan ini banyak ditemukan di desa dan perkampungan pinggiran kota.

Menurut Suryo Cahyono, pisang memiliki filosofi yang sangat bagus untuk diterapkan kepada anak-anak. Menurutnya, pohon pisang termasuk salah satu tumbuhan yang tidak berumur lama, dan hanya berbuah sekali. Karena biasanya setelah berbuah, pohon pisang akan dipotong hingga mati.

“Namun pohon pisang tidak pernah bersedih, karena akan selalu ada tunas baru yang tumbuh persis di sebelah pohon induk yang mati,” ujar Suryo Cahyono kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Hal itu, menurut Suryo, mengambarkan ketika induk pisang mati bukan berarti dia tidak berbekas dan lantas dilupakan. Namun induk pisang telah menyiapkan generasi penerusnya.

“Pohon pisang itu kan salah satu tanaman yang mementingkan regenerasi. Itulah alasannya kami menghibur anak melalui wayang dari gedebog pisang ini. Tujuannya, agar kami juga bisa beregenerasi,” jelas warga Ngaliyan, Semarang ini.

Teguh Arif Romadhani menambahkan, regenerasi itu sangat perlu pada setiap kelompok. Karena tanpa regenerasi, sangat susah sebuah ide dapat disalurkan. Untuk itu, ia berharap supaya dapat menularkan semangat menjaga permainan tradisional, salah satunya adalah wayang gebog tersebut. Meski demikian, Teguh mengakui bahwa wayang tersebut hanya merupakan kreasi untuk mendidik anak-anak.

Silakan beri komentar.