SIDAK: Dinas Peternakan Dan Polres Batang saat melihat sumur warga yang diduga tercemar Kandang Sapi milik PT KJR. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SIDAK: Dinas Peternakan Dan Polres Batang saat melihat sumur warga yang diduga tercemar Kandang Sapi milik PT KJR. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, BATANG – Adanya pengaduan warga Desa Kandeman mengenai limbah kandang sapi PT Kejora Jaya Raya (KJR) membuat Dinas Perikanan, Kelautan dan Peternakan bersama Polres Batang langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke kandang sapi .

Namun pengelola setempat, tegaskan bahwa tidak ada limbah yang dibuang ke luar maupun ke area warga. Pihak Dinas dan Polsek Tulis melakukan pemeriksaan langsung di lapangan, ternyata sudah satu minggu bau limbah kotoran sapi yang diadukan warga setempat sudah menurun. Namun, untuk memastikan adanya dugaan pencemaran sumur di lingkungan Kandang sapi akan di lakukan pengujian klinis di laboratorium.

“Tadi kita lihat secara fisik, air sumurnya tidak ada persoalan, tidak ada bau kotoran. Tapi secara klinis akan tetap kita uji di laboratorium, hal ini untuk mengetahui bahwa air sumurnya tercemar apa tidak,” kata Kepala Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Batang Achmad Taufik saat memeriksa salah satu sumur milik warga, pada Senin (15/1).

Dijelaskan lebih lanjut, pemeriksaan tersebut kata Taufiq, bentuk respon Pemerintah terkait adanya pengaduan sebagian warga Desa Kandeman yang katanya terdampak Kandang Sapi PT. KJR. Walaupun dikatakan pula, memang lokasi kandang sapai milik PT Kejora lanjutnya, tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Namun dinasnya juga memahami bahwa perusahaan setempat sudah berusaha menaruh sapinya di lokasi yang tepat. Karena hingga ini masih terus berupaya mengajukan ijin lokasi kandang sapi di Desa Tumbrep Kecamatan Bandar yang sesuai RTRW Kabupaten Batang.

“Lokasi kandang sapi ini memang darurat untuk mengamankan sapi, namun kita juga sudah menghimbau untuk tidak berlama–lama dan harus ada batas waktunya. Yang secara memang untuk kesejahteraan hewan kurang bagus karena berdampingan dengan stone crusher dan berdekatan dengan rumah penduduk. Untuk itu  kami beri batas waktu untuk memindahkan sapinya,” imbunya.

Pimpinan Manajemen PT KJR Bagian Pemeliharaan Ternak Leo Wahyudi mengatakan, apa yang menjadi tuduhan warga secara teknis tidak ada masalah, untuk masalah bau sudah tidak ada, tapi karena limbah organik dan dari segi amoniak saya pastikan tidak ada pencemaran yang sampai mengganggu.

“Kami tegaskan lagi, tidak ada pembungan limbah cairan ke sungai atau ke parit sehingga pencemaran lingkungan. Karena bagi kami limbah vital, masih mengandung nilai, karena jadi pupuk,” jelas Leo Wahyudi.

Perwakilam warga Desa Kandeman Ahmad Rohim mengatakan, menurutnya ada 50 warga terdampak yang terkena dampak kandang sapi tersebut. Mereka sebenarnya minta kebijaksanaan kepada PT KJR, agar diberikan bantuan sosial bagi warga sekitar.

“Sudah kurang lebih satu tahun kami merasakan efek adanya kandang sapi disini, kami harapkan kepada perusahaan untuk memberikan kompensasi warga yang terdampak. Bisa seperti CSR atau sejenisnya,” ucap Ahmad Rohim. (han/bas)