PENGHORMATAN TERAKHIR: Jenazah budayawan Darmanto Jatman saat disemayamkan di Auditorium Undip Pleburan, kemarin. (Nurchamim/ Jawa Pos Radar Semarang)
PENGHORMATAN TERAKHIR: Jenazah budayawan Darmanto Jatman saat disemayamkan di Auditorium Undip Pleburan, kemarin. (Nurchamim/ Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG Pemakaman dosen dan budayawan, Prof Darmanto Jatman SU, telah dilaksanakan, Senin (15/1) kemarin. Prosesi pemakaman berlangsung penuh khidmat. Jenazah dikebumikan di pemakaman Universitas Diponegoro (Undip) sekitar pukul 11.05 setelah disemayamkan di Auditorium Imam Bardjo Undip, Pleburan, Semarang.

Meskipun sang penyair sudah meninggal, namun ajaran Guru Besar Emeritus Undip ini masih hidup di hati orang-orang yang berkesempatan mengukir pengalaman bersamanya. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undip, Sunarto, salah satunya. Masih tergambar jelas dalam ingatannya sosok guru Darmanto Jatman.  Sang Guru telah mengajarkannya untuk bersikap kritis dalam memandang segala hal.

”Tidak hanya pada pemerintah, di manapun. Itu masih saya terapkan hingga sekarang,” kenang Narto –sapaan akrab Sunarto.

”Prof Darmanto mengajarkan saya mengenai kemerdekaan berpikir. Jangan sampai ada penjara dalam pikiran,” imbuh pria yang mengaku sempat menjadi mahasiswa dan rekan mengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi Undip ini.

Pun dalam hal mengajar. Darmanto mengajarkan bahwa sudah seharusnya dosen lebih mengutamakan intelektualitas daripada sekadar penampilan. Hal ini pula yang masih diterapkan Narto hingga kini. ”Bagi saya Pak Darmanto itu senior yang sangat berperan dalam hidup saya. Banyak nilai-nilai yang sangat membantu kehidupan saya,” ujarnya.

Narto terhitung dekat dengan budayawan ini, terlebih saat itu dirinya aktif dalam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Undip Manunggal. LPM ini  saat itu diasuh oleh Darmanto Jatman. Baginya, sosok Darmanto Jatman membawa aura persemaian kemampuan intelektual pada dirinya.

”Banyak hal yang diajarkan oleh beliau, dan yang paling membekas itu tadi. Kemerdekaan berpikir. Terlebih saat itu para era Soeharto, di mana untuk membaca buku pun dibatasi,” jelasnya.

Dekan Fakultas Psikologi Undip, Hastaning Sakti, tak mampu melupakan kesederhanaan Darmanto Jatman. Baginya, Darmanto adalah bapak yang bijak, sederhana, dan apa adanya. Sebagai bapak, kata dia, Darmanto juga dikenal tegas.

”Beliau mengajarkan falsafah Jawa. Bahwa segala sesuatu pasti ada hikmahya,” jelas Hasta tanpa bisa menyembunyikan kesedihannya saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang.

Sebagai penggagas program studi Psikologi Undip, Darmanto telah meletakkan visi Fakultas Psikologi sebagai psikologi keluarga. ”Akan kita pegang terus ini, kita tidak akan pernah goyah,” katanya dengan nada lirih.

Pukul 12.30, satu per satu pelayat mulai meninggalkan pusara sang Maestro. Sosok Darmanto telah meninggalkan banyak orang yang mencintainya, namun nama dan ajarannya masih akan tetap bersemayam di hati. (sga/aro)