Perdagangan Jateng Defisit

829
EKSPOR MENURUN : Aktivitas bongkar muat barang di Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS). Sepanjang 2017 lalu, nilai eksepor Jateng lebih besar dari impor. (Nurchamim/jawa pos radar semarang)
EKSPOR MENURUN : Aktivitas bongkar muat barang di Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS). Sepanjang 2017 lalu, nilai eksepor Jateng lebih besar dari impor. (Nurchamim/jawa pos radar semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Sepanjang tahun 2017 lalu neraca perdagangan Jawa Tengah mengalami defisit. Sebagian besar komoditas impor berupa bahan baku penolong yang digunakan kembali untuk industri pengolahan.

Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, Sri Herawati mengatakan, sepanjang tahun 2017, nilai ekspor Jawa Tengah tercatat sebesar US$ 5.993 juta. Jumlah tersebut meningkat sebesar 11,21 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar US$ 5.389 juta.

Peningkatan ekspor ini juga diiringi oleh peningkatan nilai impor. Yaitu dari US$ 8.811 untuk kumulatif impor sepanjang tahun 2016, meningkat 20,97 persen menjadi US$ 10.658 juta pada sepanjang tahun 2017.

“Karena nilai impor lebih besar dari nilai ekspor, maka neraca perdagangan Jateng sepanjang tahun 2017 lalu mengalami defisit,” ujarnya, kemarin.

Namun demikian, lanjutnya, komoditas yang diimpor sebagian besar merupakan bahan baku penolong, diantaranya serat untuk pengolahan tekstil, cat untuk furniture dan lain-lain. Ekspor komoditas tersebut mencapai 86 persen, kemudian disusul barang modal dengan mengambil porsi sebanyak 8 persen dan sisanya 5,9 persen berupa konsumsi.

Sedangkan untuk ekspor, sebagian besar merupakan barang-barang industri pengolahan. Jumlahnya bisa mencapai 89,60 persen dari total barang-barang yang diekspor. Melihat hal tersebut, menurutnya sepanjang tahun 2017, kondisi perindustrian Jawa Tengah masih cukup baik.

“Yang diimpor ini kebanyakan bukan barang konsumsi, tapi bahan baku penolong yang digunakan untuk industri. Pergerakan sektor industri ini juga untuk menopang perekonomian. Sehingga tidak hanya impor saja yang meningkat, tapi juga ekspor, meskipun jumlahnya masih defisit,” ujarnya. (dna/ric)