Sampaikan Pesan dengan Sanepo

356
Darmanto JT (Dok Pribadi)
Darmanto JT (Dok Pribadi)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Kota Semarang kehilangan salah satu putra kebanggaannya, Darmato Jatman. Penyair yang akrab dengan sapaan Darmanto JT tutup usia dalam usia 75 tahun, Sabtu (13/1) sekitar pukul 16.45 di RSUP dr Kariadi.

Ratusan pelayat mulai berdatangan di rumah budayawan, Jalan Menoreh Raya Nomor 73 Sampangan Semarang ini. Mulai dari mantan Gubernur Jawa Tengah Ali Mufiz, budayawan seperti Prie GS, Triyanto Tiwikromo, Handy TM hingga Dekan Psikologi Undip Hastaning Sakti.

Semasa hidup, Darmanto JT dikenal sebagai sosok panutan. Baik sebagai budayawan maupun guru besar dan merupakan salah satu tokoh penting untuk berdirinya Prodi Psikologi di Undip. Ia dikenal dengan gagasan pentingnya, peran keluarga dalam perkembangan kejiwaan seseorang, yang hingga kini menjadi khas Psikologi Undip.

Saat Jawa Pos Radar Semarang menyambangi rumah duka, terlihat suasana rumah masih ramai para pelayat. Salah satunya adalah Romo Aloysius Budi, yang juga dikenal sebagai budayawan di Semarang. Ia datang dan langsung menuju peti persemayaman mendiang Darmanto JT untuk mendoakan dan memberikan penghormatan terakhir.

Salah satu putra kedua dari Guru Besar Emeritus Undip tersebut yakni Ariyaning Arya Kesra, mengenang ayahnya adalah sosok yang santun dan tidak pernah eksplisit.

“Bapak itu kalau berpesan selalu pakai sanepo, perumpamaan. Bapak di satu sisi sangat religius, di satu sisi sangat liberal,” kenang Arya saat ditemui di rumah duka, Minggu (14/1).

Arya menceritakan, sang ayah mengajarkan ke lima anaknya tanpa paksaan dan seringkali mengajak diskusi tentang Psikologi Jawa. Menurutnya, sang ayah memiliki cara sendiri untuk mempelajari kehidupan dengan kearifan lokalnya.

“Bapak mengajar dengan sangat Jawa. Kalau diajari dengan metode pendidikan, ada teach and learn,” imbuhnya.

Terlihat puluhan karang bunga berjajar di sekitaran rumah duka berasal dari Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo hinga putri Presiden RI ke 3 Alm. Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid. Arya pun mengenang kedekatan sang Ayah dengan presiden yang kerap disapa Gus Dur itu.

“Bapak dekat sama Gus Dur karena bareng di Interfidei (Institut Dialog Antar Iman di Indonesia). Kalau pak Tjahjo, itu muridnya bapak,” pungkas Arya.

Rencananya jenazah akan disemayamkan di auditorium Undip Pleburan hari Senin (15/1). Kemudian pukul 11.00 WIB almarhum akan dimakamkan di Pemakaman Keluarga Undip di Tembalang. (tsa/zal)