Persiapan Minim, Tak Menyangka Raih Emas

Tujuh Siswa Jateng Borong Medali dalam Lomba Sains di Korea Selatan

446
BERPRESTASI: Enam siswa Kota Semarang yang memborong medali dalam lomba sains di Korea Selatan bersama Kadisdik Bunyamin dan guru pendamping. (AFIATI TSALITSATI/jawa pso radar semarang)
BERPRESTASI: Enam siswa Kota Semarang yang memborong medali dalam lomba sains di Korea Selatan bersama Kadisdik Bunyamin dan guru pendamping. (AFIATI TSALITSATI/jawa pso radar semarang)

RADARSEMARANG.COM – Tujuh siswa asal Jateng berhasil memborong medali emas, perak dan perunggu  dalam lomba sains di Korea Selatan. Mereka bersaing dengan peserta dari 13 negara lainnya di ajang 9th Student Camp & Teacher Workshop for Gifted in Science pada 4-12 Januari lalu. Seperti apa?

AFIATI TSALITSATI

MUTIA Puspa Syakila dan enam temannya tiba di Bandara Internasional Ahmad Yani, Sabtu (13/1) sekitar pukul 11.00. Kedatangan mereka disambut oleh orangtua masing-masing.  Dari tujuh siswa wakil Jateng itu, lima di antaranya siswa SMP Negeri 2 Semarang, yakni Mutia, Chandrakanti La Faini Putri, Nasywa Salsabila, Ajeng Ayu Anggraini, dan Hasan Shodiq Alaydrus. Dua siswa lainnya, yakni Samantha Raisha, adalah siswi SMP Karangturi dan Kartika Medha, siswi SMP Negeri 1 Kudus.

Selama sepekan mereka  mengikuti 9th Student Camp & Teacher Workshop for Gifted in Science di Suwon, Korea Selatan.  Kegiatan yang diselenggarakan ASEAN+3, yakni Tiongkok, Jepang dan Korsel Center for the Gifted in Science (ACGS) ini mengusung tema Hidden Science in Culture & Heritage.

Ada 14 negara yang ikut serta dalam lomba ini. Yakni, Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Laos, Kamboja, Myanmar, Filipina, Korea Selatan, Tiongkok, Jepang dan Taiwan. Tim Indonesia yang diwakili siswa asal Jateng dan Jakarta, mempresentasikan batik dan alat musik angklung dalam sesi presentasi poster.

“Di sana itu dari pertama datang sudah kaget, karena dingin banget. Suhunya minus 2 derajat. Serunya, kami justru lebih dekat dengan stafnya yang orang Korea. Karena kami tahu K-pop,” ujar Mutia kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dia mengatakan, banyak pengalaman yang didapatkan selama di sana. Meskipun saat pelaksanaan lomba, ia dan keenam rekannya kaget karena bahan presentasi yang sudah dipersiapkan dari Indonesia rupanya harus di ganti dengan materi baru, menyesuaikan dengan tema Hidden Science in Culture & Heritage. “Jadi tuh ide yang disampaikan tentang ilmu yang bisa digunakan buat masa depan. Sementara beberapa dari kami menyiapkan hanya yang sesuai tema saja,” tuturnya yang meraih medali emas dalam lomba presentasi poster.

Siswi lainnya, Nasywa Salsabila, menceritakan saat dirinya kesal dengan salah satu peserta asal Filipina yang enggan bekerja secara kelompok dalam lomba kategori presentasi team project. Dalam lomba tersebut, setiap siswa digabungkan dengan siswa dari negara lain menjadi satu kelompok, kemudian membuat karya sesuai tema, namun dapat diaplikasikan ke masa depan. “Dia itu lucu, yang lain pada kerja bareng-bareng. Dia malah nyuruh kami (Nasywa dan siswa lain satu kelompok) buat main aja. Dia bilang biar dia saja yang kerjain,” ceritanya.

Dalam lomba ini, tim Indonesia meraih empat medali emas, serta masing-masing tiga medali perak dan perunggu pada kategori non arsitektur. “Kalau untuk keseniannya, sudah dipersiapkan dua minggu sebelum berangkat ke Korea. Tapi kami bersyukur karena Indonesia yang berangkat dua tim dari Jateng dan Jakarta bisa dibilang juara umum,” terangnya.

Samantha Raisha Ramadhani mengaku tak menyangka akan mendapatkan medali emas. Sebab, persiapan materinya tidak begitu matang dan waktunya singkat. “Persiapannya hanya H-1 sebelum berangkat,” akunya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Bunyamin mengapresiasi prestasi yang diraih para siswa tersebut.  Ia berharap, ke depannya pendidikan dan kebudayaan bisa menjadi salah satu nilai jual Kota Semarang.(*/aro)