SEMBUHKAN DEPRESI: Puluhan pasien sakit jiwa, depresi, dan ketergantungan narkoba diajak membaca Alquran di Ponpes Maunatul Mubarok Demak. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SEMBUHKAN DEPRESI: Puluhan pasien sakit jiwa, depresi, dan ketergantungan narkoba diajak membaca Alquran di Ponpes Maunatul Mubarok Demak. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Kasus bunuh diri akibat depresi harus diwaspadai. Sebab, kini trennya meningkat. Kejadian terakhir, seorang mahasiswi Undip tewas setelah nekat terjun dari lantai 8 Hotel MG Suites Semarang. Selain itu, di Pati, ibu bersama anaknya yang masih balita terjun dari lantai 11 Hotel Safin.

DATA kasus bunuh diri di wilayah hukum Polrestabes Semarang memang mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Sepanjang 2016 tercatat 21 kasus bunuh diri. Jumlah itu menurun tajam pada 2017 yang hanya 3 kejadian. Namun pada 2018 ini, grafiknya cenderung naik. Sebab, baru awal tahun sudah terjadi 3 kasus bunuh diri.

Menurut Kasubag Humas Polrestabes Semarang, Kompol Suwarna, penyebab aksi bunuh diri beragam. Namun rata-rata akibat  stres atau depresi lantaran himpitan ekonomi dan persoalan asmara.

“Untuk usia korban rata-rata 20 tahun ke atas atau yang sudah berumah tangga. Kalau yang remaja biasanya dilatar belakangi persoalan asmara. Ada  juga karena minta uang kepada orangtuanya gak dikasih, terus putus asa,” katanya.

Direktur Rumah Sakit Jiwa Daerah dr Amino Gondohutomo, Sri Widyayati, mengakui, saat ini orang yang mengalami depresi relatif banyak. Bahkan, hunian kamar di RSJ yang dipimpinnya kini terisi 80 persen dari jumlah kamar yang tersedia 366 kamar.

“Pasiennya orang memang itu-itu saja, karena pasien tersebut rata-rata setelah dirawat beberapa waktu kemudian dibawa pulang, tetapi kambuh dan dimasukkan lagi,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.