RADARSEMARANG.COM – DOKTER spesialis kejiwaan RSUP dr Kariadi, dr Meyka Didit SPKJ menjelaskan, depresi saat ini tidak hanya menyerang orang tua, namun juga generasi muda. Penyebabnya, multifaktor, seperti faktor biologis, psikologis dan faktor sosial.

“Selain faktor dari dalam, yakni biologis dan psikologis, biasanya depresi disebabkan lingkungan sekitar atau faktor sosial. Khusus untuk generasi muda, lingkungan dan pola hidup serba instan menjadi salah satu faktor terjadinya depresi,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Selain itu, kata dia, pola asuh dari orang tua juga berpengaruh, apalagi saat ini anak-anak hidup dalam era milenial yang serba mudah. “Akibatnya, ketika menemui sesuatu yang sulit, mereka akan mudah putus asa,” katanya.

Dikatakan, pengenalan terhadap diri sendiri dan bagaimana cara menghadapi lingkungan dengan baik, menjadi benteng utama agar terhindar dari depresi yang berlebihan. Untuk anak-anak, lanjut dia, sebagai orang tua, seorang anak harus diajarkan sosok individu yang tangguh dan mampu menghadapi berbagai tantangan. “Dengan membuat anak kita tangguh dan kuat bisa dibilang sebuah investasi. Sebab di masa yang akan datang, tantangan serta persoalan yang dihadapi akan lebih kompleks,” ujarnya.

Ahli kejiwaan lainnya, dr Ismed Yusuf SpKJ menambahkan, depresi biasanya dilandasi atas kekecewaan yang tinggi terhadap suatu hal. Rasa kecewa ini bisa membuat seseorang menjadi agresif, baik terhadap orang lain ataupun diri sendiri. Jika dalam diri sendiri biasanya cenderung untuk menyakiti diri, sementara jika kepada orang lain cenderung akan menyakiti orang lain pula. “Dari rasa kecewa ini harus ada penyaluran, jika masalahnya masih bisa dipecahkan dan belum terlalu berat bisa sharing dengan orang terdekat. Ataupun langsung ke psikiater, yang terpenting adalah iman. Karena iman yang kuat, walaupun kecewa tidak akan sampai melakukan ke perbuatan yang negatif,” ujarnya.

Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, Prof Ahmad Rofiq, mengatakan, dari perspektif agama, ada beberapa persoalan serius yang bisa menyebabkan orang mengalami depresi dan nekat bunuh diri. Pertama, boleh jadi karena masih kurang pemahaman dan penghayatan agamanya. “Karena penanaman pendidikan agama dan bagaimana panduan agama dalam menghadapi hidup dengan berbagai ujian dan cobaan adalah agar manusia siap menghadapi berbagai tantangan hidup. Jika pemahaman minim, ada persoalan akhirnya bisa depresi,” ujarnya.

Prof Rofiq mengajak masyarakat agar benar-benar membentengi diri dengan pemahaman agama. Terutama generasi muda yang hidup di era digital dan modernisme seperti sekarang ini. Orangtua harus menguatkan agama agar mereka nanti ketika terjadi persoalan tidak memilih jalan pintas. (den/fth/aro)