Dewan Minta Operasional BRT Diperpanjang

500

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pengelolaan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang digelontor Rp 110 miliar. Diharapkan, transportasi umum ini mampu meningkatkan pelayanan secara maksimal kepada masyarakat Kota Semarang.

Sejauh ini, transportasi masal yang dikelola oleh Pemkot Semarang ini masih banyak dikeluhkan masyarakat.

“Tahun 2018 ini, pengelolaan BRT sebesar Rp 110 miliar. Sedangkan target pendapatan dari tiket penumpang sebesar Rp 30 miliar. Maka dari itu, BRT harus bekerja profesional, pelayanan harus semakin baik,” kata anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Suharsono, Sabtu (13/1).

Dikatakannya, dengan jumlah anggaran yang terus meningkat dari tahun ke tahun tentu dituntut harus ada peningkatan pelayanan lebih baik. Jumlah nilai APBD yang diberikan untuk pengelolaan BRT tersebut, artinya pemerintah memberikan subsidi kurang lebih Rp 80 miliar.

“Oleh karena itu, pengelola BRT harus terus berupaya merespon cepat atas masukan yang diberikan masyarakat. Itu juga bukti cinta mereka untuk pengembangan moda transportasi masal milik Pemkot Semarang,” tandasnya.

Suharsono menjelaskan, ada beberapa hal mengenai transportasi yang perlu ditingkatkan. Pertama jam operasional layanan untuk beberapa koridor perlu ditambah hingga pukul 21.00 atau 22.00. “Karena kondisi saat ini, di Kota Semarang tidak banyak dijumpai transportasi setelah pukul 19.00,” katanya.

Kedua, menambah angkutan feeder atau angkutan pengumpan untuk wilayah-wilayah pinggiran, seperti wilayah perumahan. Sebab sejauh ini, bus tidak memungkinkan masuk sampai wilayah pinggiran. Ketiga, sesegera mungkin pengelolaan BRT Trans Semarang dikelola BUMD atau tidak lagi dikelola Dishub Kota Semarang.

Plt BLU Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD)  BRT Trans Semarang, Ade Bhakti, mengatakan, berdasarkan hasil evaluasi 2017, saat ini masih banyak keluhan mengenai BRT Trans Semarang. Totalnya ada sebanyak 653 keluhan dari masyarakat.

Dari 653 keluhan tersebut, tiga posisi teratas didominasi keluhan tentang pelayanan sopir sebanyak 142 keluhan. Berikutnya keluhan tentang armada tidak merapat ke shelter sebanyak 129 keluhan.

“Keluhan rangking tiga adalah mengenai petugas tiket tidak ramah sebanyak 100 keluhan, 90 orang mengeluhkan tentang kondisi armada BRT, baik dari kualitas dinginnya AC, pintu hidrolis macet, emisi gas buang,” ujarnya. (amu/zal)