Bantuan PKH Mandek di Jalan

Warga Resah, Ketua RT Jadi Sasaran

522
SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG
SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG Sejumlah warga Kelurahan Tinjomoyo RT 5 RW 7 Banyumanik, Semarang mengeluhkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial yang tidak cair lagi. Bantuan yang mereka dapatkan hanya cair sekali di awal penerimaan, setelah itu mandek. Padahal para penerima lainnya sudah beberapa kali cair. Tercatat, ada lima warga yang bantuan PKH yang diterimanya mandek di jalan. Mereka adalah Siti Khodijah, Wahono, Amaro, Sugiono dan Arisanto.

Wahono, salah satu penerima PKH yang macet mengatakan, sejak buka rekening kali pertama, dirinya hanya memperoleh bantuan sekali yang harus ditukarkan dengan sembako. “Seharusnya kalau memang sudah tidak dapat lagi, dikasih tahu dan diberikan alasannya. Sehingga menjadi jelas,” ujar Wahono, didampingi istrinya, Jumirah, saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (14/1).

Ia mengaku sudah berkali-kali mengecek buku rekeningnya. Namun selalu mendapat jawaban yang sama, saldo rekeningnya kosong. “Sampai bosan saya nanyain terus. Katanya besok, besok, dan besok,” keluhnya. “Pertama kali cair, saya mendapat gula 4 kg, beras 20 kg, dan minyak lupa jumlahnya,” terangnya.

Amaro, warga lain juga mengalami hal serupa. Ia bingung hendak menanyakan kemana, karena bantuan sebesar Rp 110 ribu per bulan yang mereka terima itu datang langsung dari pemerintah pusat. “Saya mau tanya ke siapa bingung. Mau telepon ke nomor yang ada di surat juga takut. Namanya juga orang kecil,” keluhnya.

Ketua RT 5 RW 7 Tinjomoyo, Agung Irianto, mengatakan, pihaknya akan menanyakan lagi persoalan tersebut saat rapat kelurahan. Ia mengupayakan agar warganya bisa segera memperoleh kejelasan. “Kebetulan nanti malam ada rapat, nanti akan saya sampaikan. Kok bisa nggak menerima itu kenapa? Dan apa alasannya apa? Jadi biar ada kejelasan,” tuturnya.

Dia mengaku kerap menerima amukan warganya, gara-gara persoalan ini. Padahal, dirinya juga tidak mengetahui bagaimana mekanisme bantuan ini didapatkan, karena dari kelurahan pun dirinya tidak mendapatkan jawaban pasti. “Kelurahan juga tidak tahu, karena itu bantuan langsung dari pusat. Lewat pos ngirimnya dulu pertama kali. Nanti saya tanyakan lagi,” kata dia.

Salah satu agen tempat mengambil bantuan PKH, Ngatemi, mengakui, memang banyak warga yang rekeningnya kosong saat digesek (dicek, red). Sebagai pihak yang melayani penukaran, Ngatemi juga tidak bisa berbuat banyak dengan apa yang dialami warga Tinjomoyo. “Memang banyak yang ke sini, tapi setelah digesek, ndak ada isinya. Anak saya juga nyoba bantu ngecek, tapi memang kosong,” jelasnya.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang, Tommy Yarmawan Said, saat dikonfirmasi mengenai bantuan PKH tersebut menjelaskan, pihaknya akan mengkroscek terkait masalah tersebut. “Coba saya tanyakan dulu ke Korwilnya. Mungkin sudah masanya habis. Bila sudah 6 tahun akan ter-delete secara otomatis, atau karena kriteria warga tersebut sudah sejahtera. Saya klarifikasi dulu,” katanya.

Dikatakannya, terkadang memang ada yang sudah dicoret. “Basis Data Terpadu (BDT) dari Kementerian Sosial. Dari data yang ada hanya sekitar 40 persen yang masuk kategori PKH. Selebihnya non PKH, itupun ada klarifikasinya,” katanya.

Menurutnya, apabila warga tersebut mendapatkan hanya Januari dan Februari 2017, selanjutnya Maret dan seterusnya tidak mendapatkan, ia memperkirakan datanya telah dihapus dari Kemensos. “Tetapi, kalau Maret dan seterusnya terima, tiba-tiba Agustus hilang, mungkin ada yang perlu ditanyakan di bank atau Kemensos,” ujarnya. (sga/amu/aro)