JAGA KEASLIAN : Salah satu sudut di RT 5 RW 3 Kampung Bustaman Kota Semarang, Rumah Jengki dihuni secara turun temurun oleh pemiliknya. Bahkan, bertekad untuk selalu menjaga keasliannya. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
JAGA KEASLIAN : Salah satu sudut di RT 5 RW 3 Kampung Bustaman Kota Semarang, Rumah Jengki dihuni secara turun temurun oleh pemiliknya. Bahkan, bertekad untuk selalu menjaga keasliannya. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Berakhirnya era kolonial, membawa banyak perubahan. Termasuk desain hunian yang keluar dari standar bangunan khas ala Belanda. Adalah Rumah Jengki, yang cukup ngetren di era 50-60-an. Rumah berciri khas atap pelana, bangunan asimetris, batuan alam yang menempel di dinding serta sejumlah lubang angin, hingga kini masih cukup banyak ditemui di Semarang. Seperti apa?

RUMAH dengan gaya arsitektur Jengki dapat ditemukan di salah satu sudut Kampung Bustaman. Di RT 5 RW 3 perkampungan ini, tepatnya di samping WC umum terdapat dua rumah kuno dengan arsitektur yang disebut-sebut bernada perlawanan di masa kolonial ini.

Dua rumah di Kampung Bustaman ini memiliki sudut rumah yang tidak seperti rumah pada umumnya. Meski demikian, dari sekian banyak Rumah Jengki, terdapat beberapa persamaan. Ventilasi bundar yang disusun rapi dengan sedikit moncong di atasnya. Selain itu, dinding rumah juga dihiasi motif alam dengan susunan tidak rata.

Febri, 37, sang pemilik rumah mengaku tidak mengetahui jenis arsitektur apa yang digunakan untuk membangun rumah yang kini ia tempati, terlebih nama perancangnya. Yang dia tahu, rumah yang ditempati merupakan rumah kuno peninggalan sang kakek. ”Di kampung ini, ada dua rumah kuno. Ini, sama sebelah. Kebetulan masih saudara,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Diceritakan olehnya, sang kakek dulunya berprofesi sebagai lurah. Dari sejak lahir, dirinya sudah tinggal di rumah dengan bentuk bangunan yang cukup unik, bila dilihat dari luar. Namun begitu masuk ke dalam rumah, ruangan sudah seperti rumah pada umumnya. Rumah yang ditempati Febri memiliki 3 kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga yang masing-masing berukuran kurang lebih 3×3 meter. ”Yang sini memang sudah diganti lantainya. Kalau rumah sebelah itu masih asli lantainya,” jelasnya.

Selain lantai, semua bagian rumah yang ia tempati masih asli. Kusen jendela hingga ventilasi jendela, semuanya masih asli dari awal berdirinya rumah ini. Dirinya mengatakan akan tetap mempertahankan keaslian bentuk rumahnya, lantaran peninggalan yang diberikan secara turun temurun.