Kurikulum 13 Hebohkan Sekolah

Must Read

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau...

RADARSEMARANG.COM – BRAAAAK, tiga rim kertas ditaruh di meja dengan kasar, di sebelahnya ada printer yang usianya sudah tua. Glodaaaaak, glodaaaaak, bunyi printer yang tak mampu mengeluh. Beberapa hari dipaksa ngeprint berlembar-lembar seakan berat sekali bereaksi di usianya yang sudah lanjut. Bagi guru badan lelah tak dirasa, kertas dan tinta boros, printer dan laptop jadi error, aplikasi nila ribet. Itu sih cerita kemarin, saat pengisian rapor. Sekarang sih tinggal melaksanakan program selanjutnya berkaitan Kurikulum 13 (K-13) yang salah satunya ada literasi.

Literasi? “Heleeh heleh, saya buta huruf tanpa bisa membaca dan menulis, juga bisa sukses. Tiap hari baca buku dan menulis terus, itu sih pekerjaan pemalas yang mubadzir! Apa dengan banyak membaca kita bisa kaya?” itulah cibiran minir dari sebagian masyarakat yang kurang responsif adanya literasi. Kata yang pedas dapat mengikis semangat literasi dan membunuh motivasi.

Yah, itulah salah satu kehebohan K-13, dan membuat guru menjadi semakin sibuk. Di Sekolah Dasar (SD), gerakan literasi berkolaborasi dengan penanaman karakter secara otomatis. Pelaksanaan literasi selama 15 menit sebelum pelajaran terlaksana dengan berbagai metode. Yang tujuannya agar peserta didik tidak bosan. Namun ada sebagian orang tua murid yang kurang merespon positif dengan adanya literasi tersebut. Berbagai komentar minir selalu ada. Seperti pagi itu yang sempat terdengar dari perbincangan orang tua yang mengantarkan putra-putrinya.

Itulah sekelumit gambaran pelaksanaan Kurikulum 2013 di SD yang ramai menjadi perbincangan di kalangan pemerhati pendidikan. Apalagi kalau mengingat kejadian saat pembuatan rapor untuk peserta didik. Uh, para guru butuh perjuangan ekstra, berkutat dengan laptop. Bahkan harus menahan kantuk, tetap lembur mengisi aplikasi nilai untuk rapor. Ada sebagian guru di SD yang usianya sudah hampir pensiun dan kurang terampil mengoperasikan IT, menjadi beban berat dalam menyelesaikan rapor. Minta tolong teman juga sibuk sendiri-sendiri. Sedih dan galau, bagaimana harus dapat membagi rapor pada saat yang sudah ditentukan dengan sempurna. Akhirnya, kondisi tubuh menurun drastis. Diare terus menerus, keringat dingin keluar, badan lemah gemetar, gairah makan tidak ada sama sekali. Kalau sudah seperti itu, bagaimana solusinya? Itulah satu sisi K-13 yang menjadikan heboh bagi yang kemampuannya kurang.

Untuk yang berkemampuan lebih, justru sebagai ajang bisnis. Heboh kan? Untuk mendapatkan aplikasi penilaian pemerintah secara resmi tidak menyiapkan secara khusus agar menjadi keseragaman dan kemudahan dalam pengisian rapor sehingga para guru mencari solusi sendiri-sendiri. Ada yang men-download, ada yang meminta teman tapi dengan imbalan mengganti CD, ada yang pesan pada yang pandai IT untuk membuatkan aplikasi nilai, dan ada juga yang secara manual diketik berhari-hari. Yaah, itulah hebohnya saat pengisian rapor khususnya di SD. Walaupun tidak seluruhnya SD seperti itu, namun sebagian permasalahan itu hendaknya dapat diminimalkan kelemahan dan kekurangan K-13 agar menjadi kesempurnaan yang lebih baik.

Marilah kita hadapi K-13 dengan sikap cintai pekerjaan, bahwa guru adalah anugerah dan kodrat yang harus disyukuri, selalu semangat dalam melakukan segala aktivitas dan menghasilkan inovasi yang hebat serta bermanfaat yang dilandasi sikap professional. Kurikulum sebaik apapun, sebenarnya hanya pola dalam mencapai tujuan peningkatan kualitas pendidikan. Semua itu tergantung dari guru sebagai pelaksana dan berpikir positif dengan niat ibadah. Kurikulum apapun, kita laksanakan dengan ikhlas dan niat beribadah karena Allah. Dengan keikhlasan itu, semoga dapat mengalir hasil yang baik, meningkatkan kualitas pendidikan, memberi motivasi, penguatan, ketenangan, dan kenyamanan dalam menjalani proses kehidupan, sehingga hasil yang diperoleh penuh keberkahan. (*/as/ida)

*) Guru SDN Kebonagung 3 Demak

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini hadir dengan keunggulan internal memori...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau SARS 18 tahun lalu. SARS: yang...

Wajah Baru Warnai Ofisial Tim PSIS

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – PSIS Semarang resmi memperkenalkan ofisial tim musim depan. Terdapat beberapa nama baru yang akan bahu-membahu membantu pelatih Dragan Djukanovic mengarsiteki Mahesa Jenar...

Lomba Cepat

Berita buruknya: korban virus Wuhan bertambah terus. Sampai kemarin sudah 106 yang meninggal. Hampir semuanya di Kota Wuhan --ibu kota Provinsi Hubei.Berita baiknya: yang...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -