Trotoar Terancam Dibongkar Lagi

Pembangunan Utilitas Bawah Tanah Kota Lama

480
PENATAAN KOTA LAMA: Trotoar Jalan Letjend Soeprapto Kota Lama yang sudah dibangun menjadi area pedestrian dan tempat berswafoto. (kanan) Model ducting dan drainase di kawasan Kota Lama ke depan. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENATAAN KOTA LAMA: Trotoar Jalan Letjend Soeprapto Kota Lama yang sudah dibangun menjadi area pedestrian dan tempat berswafoto. (kanan) Model ducting dan drainase di kawasan Kota Lama ke depan. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Penataan Kawasan Kota Lama Semarang sedang dilakukan secara bertahap. Kekumuhan sampah drainase dan kesemrawutan jaringan kabel utilitas bakal ditata dan dirapikan. Jaringan kabel utilitas yang saat ini masih semrawut akan ditanam  dalam ducting atau boks utilitas di bawah tanah. Pembangunan infrastruktur jalan, drainase, dan jaringan utilitas di Kawasan Kota Lama tersebut dibiayai oleh pemerintah pusat, yakni Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) senilai Rp 156 miliar.

Persoalannya, di Jalan Letjend Soeprapto Kota Lama Semarang, terutama di depan Galeri Semarang , saat ini telah terbangun area pedestrian yang sekaligus dimanfaatkan sebagai taman dilengkapi kursi-kursi santai dan kerap dimanfaatkan warga untuk berswafoto.

Sejumlah pihak mengkhawatirkan, proyek trotoar yang saat ini telah dibangun itu terjadi tumpang tindih dengan pembangunan jaringan kabel utilitas bawah tanah. Apalagi jika trotoar yang sudah dibangun tersebut dibongkar untuk pemasangan utilitas.

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Suharsono, mengatakan, keterpaduan penataan utilitas perlu kajian mendalam dan disesuaikan dengan Perda RTRW.

“Mengingat akan melibatkan pembangunan yang cukup kompleks. Harus ada keterpaduan dengan program yang sudah dirancang melalui kajian ini. Jangan sampai pembangunan yang sudah dilaksanakan justru dibongkar lagi,” katanya, Jumat (12/1).

Pemikiran adanya pembuatan ducting yang disediakan untuk mewadahi jaringan utilitas, baik jaringan kabel PLN, telekomunikasi, pipa PDAM, dan lain-lain, untuk Kota Metropolitan sudah harus dirancang sejak sekarang.

“Penataan di Kota Lama prinsipnya saya mendukung, tetapi jika harus melakukan pembongkaran, maka harus dipertimbangkan. Apalagi kalau sudah dibangun, namun di kemudian hari dibongkar lagi karena untuk kepentingan lainnya,” ujarnya.

Mengenai konsep penerapan ducting, kata Suharsono, tidak hanya di Kota Lama. Tetapi sejumlah ruas jalan akan dilakukan pembangunan ducting jaringan kabel di bawah tanah. “Tahun ini, Pemkot Semarang melalui Dinas Pekerjaan Umum sudah membuat ducting dengan anggaran kurang lebih Rp 5 miliar. Itu diprioritaskan untuk daerah Segitiga Emas Semarang,” katanya.

Sebab, ducting terpadu atau bersama perlu disediakan oleh pemerintah untuk menata Kota Semarang agar lebih estetik. “Bisa dimanfaatkan pemkot sendiri, juga bisa disewakan kepada perusahaan BUMN maupun swasta,” ungkapnya.

Sehingga keluhan masyarakat adanya kabel semrawut, tentu ke depan jangan terus dibiarkan. “Karena akan mengganggu penguna jalan dan  keindahan kota. Pemkot Semarang harus sudah mengkaji dan menyiapkan secara menyeluruh atas kebutuhan ducting tersebut,” katanya.

Sekretaris Dinas Tata Ruang (Distaru) Kota Semarang, Irwansyah, dikonfirmasi mengenai apakah pembangunan jaringan utilitas di Kawasan Kota Lama tidak tumpang tindih dengan pembangunan trotoar di Jalan Letjend Soeprapto yang saat ini sudah dibangun? Dia menjelaskan, jika hal itu  tidak masalah dan akan diintegrasikan.

Ducting bawah tanah itu nanti ada di tengah jalan. Jadi, tidak ada masalah. Kita tidak merusak trotoar yang ada,” ujarnya.

Dijelaskannya, semua jaringan utilitas kabel listrik, PLN, telekomunikasi dan lain-lain di Kawasan Kota Lama akan ditempatkan di bawah tanah. “Jaringan ducting bawah tanah ini meliputi semua kawasan Kota Lama,” katanya.

Menurut dia, Detail Engineering Design (DED) mengenai ducting bawah tanah dan drainase Kawasan Kota Lama, telah disesuaikan.  “Tidak ada masalah. Artinya, telah terintegrasi. Saat ini, sudah mulai dilaksanakan tahap awal, antara ducting dan drainase dikerjakan berbarengan,” jelasnya.

Dikatakan, pembangunan infrastruktur jalan, drainase, dan jaringan utilitas di Kawasan Kota Lama ini menggunakan anggaran dari pemerintah pusat, yakni Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) senilai Rp 156 miliar. “Insya’Allah tidak ada kendala. Sejak dulu sudah menggunakan gambar yang digunakan sekarang. DED-nya keseluruhan sama dengan yang lama,” katanya. (amu/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here