Tertarik Dunia Burung Gara-Gara Hobi Kakak

Juri Burung Berkicau Perempuan, Kartika Jezvina

1658
JURI BURUNG: Kartika Jezvina yang telah berkeliling Indonesia menjadi juri dalam perlombaan burung berkicau. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)
JURI BURUNG: Kartika Jezvina yang telah berkeliling Indonesia menjadi juri dalam perlombaan burung berkicau. (Agus Hadianto/Jawa Pos Radar Kedu)

RADARSEMARANG.COM – Juri lomba burung biasanya didominasi kaum pria. Kartika Jezvina menjadi satu di antara sedikit perempuan yang menekuni pekerjaan sebagai juri burung berkicau. Seperti apa?

AGUS HADIANTO

Berkembangnya dunia burung berkicau sebagai hobi dibarengi dengan munculnya berbagai perlombaan burung yang menyajikan keindahan suaranya. Di wilayah Magelang Raya, muncul puluhan tempat perlombaan atau lazim dinamakan tempat gantangan yang menawarkan hadiah menarik. Banyak penghobi burung dari berbagai wilayah mendatangi tempat gantangan untuk menampilkan gacuknya (burung jagoan).

“Awalnya saya tertarik dengan dunia burung sejak SMK karena kakak laki-laki punya banyak burung dan sering ikut lomba. Kadang saya juga diajak kakak ikut lomba,” jelas alumni SMK 3 Kota Magelang jurusan Kecantikan tersebut.

Dara kelahiran 3 Mei 1996 yang akrab disapa Cantika ini semakin tertarik dengan dunia burung ketika rutin mengikuti berbagai lomba. Ia selalu membawa lovebird kesayangannya yang diberi nama Sri. Berbagai prestasi pernah diraih Sri.

Ikut perlombaan, bagi Cantika, sebenarnya bukan semata mengincar hadiah namun mengejar prestasi. Semakin sering burung sering menyabet juara, nilai jual burung akan semakin tinggi.

“Awal tertarik menjadi juri ketika ditawari oleh teman dan diberi pelatihan. Tugas pertama di tempat gantangan bernama Block B di Kabupaten Magelang,” urai anak ketiga dari pasangan Sumardi dan Sukarti tersebut.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan juri burung di Surabaya selama 3 hari dengan berbagai format penilaian sesuai standar. Cantika menjelaskan, kriteria penilaian tiap jenis burung berbeda satu sama lain.

“Namun pada intinya hampir sama yaitu penilaian burung saat berkicau atau istilahnya burung bekerja,” imbuh dara dengan tinggi badan 160 cm tersebut.

Warga Jonalan Borobudur, Kabupaten Magelang ini mengaku, sudah terjun ke dunia penjurian burung sejak dua tahun lalu dan belum ada niat untuk mencari pekerjaan lain. Dari kegiatan menjadi juri, ia sudah berkeliling berbagai daerah di Indonesia. Seperti Makassar, Bandung, Jakarta, Banyumas, Kalimantan, Semarang, Jogjakarta dan lainnya. Menjadi juri adalah kecintaan dan kenikmatan.

“Ketika burung sudah berkicau, rasanya damai. Sehingga saat menilai burung, dengan hati dan konsentrasi tinggi. Sebab, juri dituntut agar independen dan tidak memihak,” kata dara yang mempunyai hobi memetik gitar tersebut.

Saat ditanya honor sebagai juri, Cantika mengaku sangat lebih dari cukup. Jika menjadi juri perlombaan biasa, honor yang diterimanya sekitar Rp 150.000 untuk sekali acara. Sedangkan untuk perlombaan prestasi maupun tingkat nasional, ia kadang dibayar hingga Rp 1-2 juta. “Dalam satu bulan bisa dipanggil menjadi juri hingga puluhan kali. Ya lumayan pendapatannya,” ujarnya.

Meski demikian, Cantik mengaku sedang mengumpulkan uang agar bisa membuka tempat usaha salon kecantikan sebagaimana cita-cita awalnya. “Ya inginnya ke depan buka salon kecantikan karena basic saya di jurusan kecantikan. Untuk kecintaan kepada burung tetap, dan bisa saja nanti mulai beternak burung juga,” jelasnya. (*/sct/ton)

Silakan beri komentar.