Rektor Tunggu Hasil Investigasi Komite Etik

313

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Prof Yos Johan Utama mengklaim pihaknya masih mengawal dan menunggu hasil penelusuran, verifikasi, dan rekomendasi yang saat ini dilaksanakan Tim Komite Etik Fakultas Kedokteran (FK) Undip. Hal ini terkait penelitian salah satu dosen FK Undip yang diduga bermasalah.

“Dari laporan terakhir, ini masih dilaksanakan penelusuran. Kami pun akan menunggu hasil rekomendasi dari Komite Etik FK Undip. Sebab disini ada dua wilayah, yakni etik dan disiplin pegawai negeri sipil (PNS). Nah, sekarang sedang ditelusuri di wilayah etik,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (12/1)

Yos menegaskan, untuk sementara kewenangan sepenuhnya ada pada pihak Komite Etik dan Komisi Investigasi FK Undip. Pihaknya akan menanti hasil rekomendasinya. Jika nantinya bisa diselesaikan ditingkat fakultas, maka tidak perlu dilanjutkan ke tingkat universitas bahkan senat akademik.

“Ini sedang diverifikasi, termasuk pernyataan para pakar yang merasa dirugikan. Lalu akan kami kawinkan dengan pendapat Puguh Riyanto. Prinsip semua tahapan itu bakal dilaksanakan. Jadi semua fair,” terangnya.

Dia menegaskan, apabila tidak ditemukan adanya pelanggaran, maka secara otomatis permasalahan tersebut juga akan dianggap selesai. Namun apabila sebaliknya, akan dilihat pada tingkat pelanggarannya. Sanksi berjenjang melai dari diberi teguran maupun pemecatan sebagai PNS.

“Atas permasalahan itu, kami perlu tegaskan, secara institusi tidak terganggu. Bagi kami itu adalah hal rutin. Tak terkecuali di kalangan mahasiswa, termasuk soal plagiasi. Jika ada temuan atau dugaan, tentu akan kami tindaklanjuti secara prosedur yang berlaku,” tegasnya.

Terkait pemberian tenggat waktu, Yos mengatakan pihaknya tidak akan menentukan batas waktu penelusuran dari tim Komisi Investigasi. Sebab, yang diutamakan dan terpenting adalah esensi. Sehingga jangan sampai keadilan dikalahkan oleh waktu.

“Di setiap penanganan suatu permasalahan harus cermat, harus adil, harus teliti. Jangan sampai mengabaikan keadilan. Jangan sampai pelaksanaannya terburu-buru. Nanti malah bisa muncul permasalahan baru lagi. Itu yang selalu kami tekankan ketika menghadapi suatu persoalan,” tegasnya.

Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Undip Tri Nur Kristina ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Semarang mengatakan, hingga saat ini tim yang dibentuk untuk menelusuri penelitian masih terus bekerja. Namun ketika dimintai keterangan lebih lanjut, Kristina masih enggan berkomentar lebih jauh. “Ini saya masih di Aceh, nanti hari Senin saja kalau mau wawancara langsung,” kilahnya.

Sebelumnya diberitakan, penelitian dosen Undip Semarang yang menjadi juara 3 lomba yang digelar Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi diduga bermasalah. Dari data yang dihimpun koran ini, penelitian berjudul “Manfaat Krim Isoflavon Kedelai 1 Persen Sebagai Anti Akne Vulgaris” tersebut diduga mencantumkan nama sejumlah peneliti lain tanpa sepengetahuan yang bersangkutan.

Penelitian karya dosen Undip bernama Puguh Riyanto yang mengambil sampel kedelai asal Grobogan  itu memperoleh penghargaan dalam Ristekdikti – Martha Tilaar Innovation Center (MTIC) Award 2017 yang dilaksanakan Agustus 2017 lalu.

Dari data yang diperoleh, penelitian itu diketahui dilakukan Puguh Riyanto bersama dengan sejumlah pakar dari Undip. Beberapa nama yang tercantum dalam penelitian itu antara lain Guru Besar Undip Prof Prasetyowati, dosen Undip Dr Bambang Cahyono dan Drs Suharjono. Namun tiga dosen tersebut merasa tidak terlibat dalam penelitian tersebut. (tsa/aro)