Rahasia Sukses Belajar Bahasa Inggris

904
Oleh: Ahlis Qoidah Noor SPd MPd
Oleh: Ahlis Qoidah Noor SPd MPd

RADARSEMARANG.COM – MENGAJAR Bahasa Inggris sebagai bahasa asing di Indonesia menemui banyak kendala. Walaupun pada saat kuliah para calon pendidik sudah mendapatkan  mata kuliah teaching english as a foreign langauge (TEFL) tetapi untuk mengetahui kesulitan dan cara mengatasinya perlu observasi  para guru dan peserta didik.

Bahasa Inggris merupakan bagian dari tuntutan di era global, era di mana pada pembelajaran di abad 21 itu ini peserta didik harus bisa berbahasa Inggris secara  lisan (spoken) maupun tertulis (written) . Hampir semua gadget, medsos, buku ilmah, jurnal, buku akademik, komputer, media online sebagian besar berbahasa Inggris. Hal ini membuat penguasaan Bahasa Inggris menjadi keharusan yang layak diperhatikan perolehannya.

Di sekolah banyak sekali kendala yang dihadapi oleh peserta didik SMK dalam belajar Bahasa Inggris. Mulai dari buku ajar yang tidak spesifik SMK, metode mengajar yang kurang variatif, guru yang mendominasi kelas, tingkat kehadiran guru di kelas,  sampai pada kompetensi guru, silabus pengajaran dan sarana dan prasarana yang kurang memadai untuk proses belajar mengajar.

Hal di atas akan mempengaruhi efektivitas mengajar di kelas dan berakibat kompetensi dan proficiency peserta didik, tidak seperti yang diharapkan baik untuk penguasaan pasif maupun aktif. Tujuan utama pembelajaran Bahasa Inggris adalah untuk berkomunikasi. Jadi salah satu indikator pembelajaran Bahasa Inggris yang berhasil adalah kemampuan peserta didik dalam berbicara dalam Bahasa Inggris.

Kondisi dan tantangan di atas perlu dijawab oleh para pendidik dengan beragam respons konstruktif sebagai upaya untuk mengevaluasi diri untuk menemukan sarana tepat, metode yang efektif dan suasana belajar yang sesuai untuk memberikan bekal bagi generasi emas Indonesia. Hal ini bisa dimulai dari langkah pembelajaran di kelas.

Dari beberapa sekolah yang sempat penulis observasi dapat saya sampaikan hal berikut yang akan sangat bermanfaat jika dapat diterapkan di semua jenis pembelajaran dan level sekolah apapun baik di SMK maupun SMA dan SMP, dengan: Pertama senang, peserta didik akan dapat menyerap materi bila disampaikan dalam kondisi kelas yang menyenangkan, tanpa tekanan dan guru yang pandai memanfaatkan situasi psikologis untuk menghantarkan materi dengan runtut dan tanpa kesalahan. Banyak model yang bisa dipakai oleh para guru dari mulai project based learning, inquiry, problem based learning, task based language teaching (TBLT ) maupun quantum learning. Model, strategi, metode, teknik apapun bisa dipakai asalkan menggunakan pendekatan yang berorientasi pada peserta didik atau biasa disebut dengan student centered learning. Inilah yang diinginkan Kurikulum 2013.

Sungguh bukan eranya lagi peserta didik diminta untuk mencatat banyak – banyak di buku atau mengerjakan LKS sampai habis. Juga bukan masanya lagi pembelajaran yang mengedepankan pendekatan yang lama dan kuno serta tidak berkembang. Sekali waktu guru perlu meng-update metode yang paling baru dan mengombinasikan dengan apa yang dia punya. Sekali lagi apapun metode dan model pembelajarannya tujuan utamanya adalah membuat peserta didik senang di kelas dengan pembelajaran yang dinamis, tidak statis di tempat  dan penuh tantangan untuk semua skill baik di speaking. listening, reading  maupun writing.

Kedua, kontekstual. Dalam pengajaran bahasa Inggris, apapun yang kita ajarkan akan harus selalu berorientasi ke konteks penggunaan di kehidupan sehari- hari (kontekstual). Contohnya mengajar recount. Dalam pelaksanannya perlu dikaitkan Recount itu dengan menceritakan kejadian atau peristiwa atau pun kegiatan yang sudah terjadi/di masa lalu. Pelibatan peserta didik dalam membangun materi sangat dibutuhkan . Jadi guru menggunakan pendekatan bottom up bukan top down . Guru menyampaikan materi tidak sekedar menuliskan contoh di kelas tetapi melibatkan peserta didik dan menggali kemampuan mereka untuk supaya mereka eksis di kelas.

Kontekstual juga mengandung arti topik yang dibahas adalah yang paling up date, paling kekinian dan benar benar dibutuhkan oleh peserta didik. Karena itu, perlu adaptasi materi pada saat memilih teks yang akan diberikan, mengambil dan menyesuaikan sesuai kebutuhan di kelas.

Ketiga, sesuai silabus. Kurikulum 2013 mengalami banyak revisi, terbaru ada pada tahun 2016 yang mulai dilaksanakan tahun 2017. Pada revisi kali ini para guru harus menciptakan silabus sendiri karena pemerintah hanya menyediakan kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD) saja. Tidak semua guru bisa membuat silabus, untuk itu dibutuhkan kerja sama musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) tingkat sekolah yang akan membimbing dan membina guru menjadi terampil dalam membuat Silabus. (us/aro)

Guru SMK Negeri 6 Semarang