Nelayan Kendal Masih Gunakan Pukat Harimau

680
BANTUAN TAK TEPAT : Sebagian nelayan masih menggunakan pukat harimau untuk mencari ikan, lantaran bantuan alat tangkap ikan dari pemerintah tidak merata. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BANTUAN TAK TEPAT : Sebagian nelayan masih menggunakan pukat harimau untuk mencari ikan, lantaran bantuan alat tangkap ikan dari pemerintah tidak merata. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KENDAL – Meski sudah tidak ada yang menggunakan alat tangkap ikan cantrang, beberapa nelayan Kendal masih menggunakan pukat harimau. Hal ini karena pukat harimau dinilai sangat efektif untuk mencari udang dan kepting di perairan bawah laut.

Ketua DPC Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kendal, Zaenal Abidin mengatakan bahwa nelayan Kebupaten Kendal tidak menggunakan  cantrang. “Tapi beberapa kapal dan nelayan masih menggunakan pukat harimau. Itu hanya sebagian kecil saja,” tandasnya.

Diakuinya, penggunaan cantrang maupun pukat harimau sudah dilarang. Karena bentuk lubang jaring yang begitu kecil dan ukuran jaring yang besar, dapat merusak ekosistem ikan laut. Sebab, baik ikan kecil maupun besar, tidak bisa keluar jika sudah terperangkap dalam jaring tersebut.

Larangan penggunaan cantrang itu tertuang dalam surat Edaran Nomor: 72/MEN-KP/II/2016, tentang Pembatasan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Cantrang di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Indonesia (WPPNRI).

Di sisi lain, KKP telah mengundangkan Permen Nomor 2/PERMEN-KP/2015 tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Seine Nets) di WPPNRI. Alasan dari penerapan aturan ini, karena alat tangkap tersebut termasuk dalam alat tangkap yang dapat merusak habitat ikan.

Zaenal mengaku telah mengetahui jika cantrang sudah dilarang. Bahkan para nelayan di Kendal sendiri mendapatkan bantuan jaring alat penangkap ikan ramah lingkungan dari Kementrian Kelautan. “Namun karena tidak mendapatkan semua, itulah alasan nelayan masih menggunakan pukat harimau. Selain itu, sebagian nelayan yang mendapatkan jaring ikan malah dijual kepada nelayan lain,” tambahnya.

Menurutnya, bantuan alat penangkap ikan (API) ramah lingkungan dari pemerintah tidak dimanfaatkan dengan baik, karena tidak ada pengawasan dan pengawalan dari pemerintah. “Bbantuan yang sedianya digunakan, malah dijual. Artinya, bantuan tersebut tidak tepat sasaran,” paparnya.

Zaenal berharap, pemerintah dalam memberikan bantuan, dibarengi pengawalan atau pantuan dari dinas terkait. Apakah nelayan yang mendapat bantuan tersebut benar-benar digunakan atau tidak. Sebab, meskipun nilainya tidak begitu besar, hal ini menyebabkan kecemburuan sebagian nelayan yang tidak mendapat bantuan,” tambahnya.

Turmaji, nelayan Kendal mengaku jika nelayan sudah sepakat tidak menggunakan cantrang. Selain dilarang, kebanyakan kapal nelayan Kendal adalah kapal kecil. “Sehingga tidak ada masalah dan mendukung program pemerintah terkait pelarangan cantrang,” katanya. (bud/ida)