Harga Beras Naik, Dinilai Masih Wajar

293
STOK BERAS : Seorang petugas sedang menata stok beras di gudang Bulog Subdivre V Kedu (DOK JAWA POS RADAR KEDU).
STOK BERAS : Seorang petugas sedang menata stok beras di gudang Bulog Subdivre V Kedu (DOK JAWA POS RADAR KEDU).

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA – Harga beras dan ayam potong di sejumlah pasar tradisional Salatiga merangkak naik. Kenaikan dimulai saat menjelang Natal dan Tahun Baru lalu namun hingga saat ini belum juga turun.

Dari pantauan harga di Pasar Blauran, kenaikan signifikan terjadi pada komiditi beras dan ayam potong. Untuk beras standar C4 super yang biasanya di kisaran Rp 10.000 per kilogram kini menjadi Rp 12.000 per kilogram.

Menurut salah seorang pedagang sembako Anis, 35, kenaikan beras mulai merangkak naik di akhir tahun 2017 lalu kemudian terus berlangsung sampai sekarang. Sekitar November, harga kulakan masih di kisaran Rp 10.000 per kilogram malah bisa kurang. Tetapi sekarang sudah Rp 11.400 per kilogram. Ia lantas menjual secara eceran seharga Rp 12.000 per kilogram.

Anis mengaku tidak mengetahui penyebab kenaikan tersebut, namun yang pasti ia berharap agar pemerintah pusat memikirkan harga kebutuhan masyarakat ini. “Karena kenaikan ini tidak hanya terjadi di Salatiga, di beberapa daerah lainnya di Indonesia juga mengalami hal yang sama. Kalau harga naik terus, saya tidak bisa kulakan,” kata Anis.

Sementara kenaikan harga yang signifikan lainnya pada ayam potong. Bila menjelang Natal dan Tahun Baru lalu harga daging ayam potong Rp 32.000 per kilogram, saat ini sudah merangkak naik menjadi Rp 38.000 per kilogram.

Rini, 34, salah satu pedagang ayam potong di Pasar Raya menuturkan, penyebab naiknya harga ayam potong ini, menurut distributor, karena terbatasnya barang. Pasalnya, dalam musim penghujan ini, banyak ayam potong di peternakan yang mati sehingga tidak bisa dipanen.

Sementara, Kepala Dinas Perdagangan Kota Salatiga Muthoin saat dikonfirmasi mengatakan, dari hasil survei selama tiga hari, kenaikan harga beras masih dalam tahap wajar. Dan kenaikan ini dikatakan tidak berlangsung lama. “Cuaca berpengaruh, pengeringan gabah oleh produsen mengandalkan panas, sementara cuaca seperti ini (hujan terus) sehingga mempengaruhi pasokan. Kami sudah wawancara dengan produsen dan untuk Salatiga belum perlu operasi pasar,” ujar Muthoin, Kamis (11/1). (sas/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here