Wihaji Ajak Kembangkan Tanaman Holtikultura

887
TANAM CABAI : Bupati Batang Wihaji saat melakukan tanam perdana cabai kreting bersama petani holtilkultura Batang. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
TANAM CABAI : Bupati Batang Wihaji saat melakukan tanam perdana cabai kreting bersama petani holtilkultura Batang. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, BATANG –  Minimnya minat generasi muda berkecimpung dalam dunia pertanian membuat banyak lahan pertanian beralih fungsi jadi perkebunan dan tempat usaha lain. Dampaknya lahan pertanian semakin mengecil. Atas hal tersebut, Bupati Batang Wihaji mengajak masyarakat untuk beralih ke tanaman holtikultura.

“Mari kita kembangkan tanaman holtikultura di Batang. Sebab prospek ke depan sangat bagus dan biaya yang dikeluarkan termasuk terjangkau,“ kata Wihaji saat tasyakuran, sarasehan, serta penanaman perdana bibit cabai keriting bersama Kelompok Petani Hortikultura di Komunitas Cabai dan Bawang, Kamis (11/1).

Bahkan Wihaji juga mengimbau para petani agar jangan hanya menanam padi di setiap tahunnya, tetapi juga menanam tanaman holtikultura. Sebab dengan langkah diversifikasi pertanian diharapkan pendapatan para petani dapat meningkat.

Namun menurutnya yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama adalah, bagaimana generasi ke depan mau terjun di bidang pertanian untuk meneruskannya. Untuk itu, kata Wihaji, pemerintah daerah telah mengambil beberapa langkah. Salah satunya dengan mengadakan pelatihan untuk pemuda yang tergerak di bidang pertanian.

“Kami telah bekerja sama dengan Universitas Diponegoro untuk membangun Fakultas Pertanian dan Peternakan yang terletak di Desa Tumbrep, Kecamatan Bandar. Dengan harapan generasi mendatang cinta pertanian,” ungkapnya.

Ketua Kelompok Petani Holtikultura Batang Nurkholis mengatakan, dalam gerakan pertanian hortilkurtura, khususnya cabai keriting, saat ini sudah ada 100 hektare lahan yang sudah disiapkan untuk penanaman cabai. Yang mana dikelola oleh 50 kelompok tani yang tersebar luas di wilayah Kabupaten Batang. Diperkirakan lahan 100 hektare cabai keriting mampu menghasilkan 600 – 800 ton setiap panen antara 3 bulan, dengan perhitungan satu pohon menghasilkan 1 kilogram. “Rencana ke depan akan dikembangkan lagi hingga 500 hektare dengan ditanami berbagai jenis sayuran, salah satunya bawang merah,” jelasnya.

Tidak sekedar dalam produksi pertanian, dikatakan juga kelompok mereka juga telah menjalin kerjasama dengan banyak perusahaan untuk sistem pemasarannya. Wilayah Jakarta dan Kalimantan  menjadi pasar utama cabai keriting selain pasar daerah. Bahkan mereka juga sudah bekerja sama dengan retail besar Transmart. (han/ric)