Tuntut Pembagian Lapak Adil

198
BELUM TRANSPARAN : Kasi Penataan Bidang Penetapan dan Penataan Dinas Perdagangan, Oktaviatmono saat menemui pedagang klitikan Rejosari di kantor Dinas Perdagangan Kota Semarang, kemarin. (Jon waheed/jawa pos radar semarang)
BELUM TRANSPARAN : Kasi Penataan Bidang Penetapan dan Penataan Dinas Perdagangan, Oktaviatmono saat menemui pedagang klitikan Rejosari di kantor Dinas Perdagangan Kota Semarang, kemarin. (Jon waheed/jawa pos radar semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Sebanyak 10 perwakilan dari berbagai blok PKL Rejomulyo, Kamis (11/1) mendatangi Dinas Perdagangan Kota Semarang. Mereka menuntut agar pembagian lapak di Pasar Penggaron bisa berlaku adil dan transparan.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang melalui Kasi Penataan Bidang Penetapan dan Penataan, Oktaviatmono mengatakan pembagian itu berdasarkan pada satu izin, satu kios. Namun kondisi di lapangan ada yang satu kios tetapi izinnya enam.

“Jadi secara fisiknya satu tetapi izinnya enam sehingga yang dihitung itu secara fisik bangunan. Dengan begitu kami mencoba untuk bisa dipertemukan dengan pedagang untuk mengecek jumlah izin secara proporsional guna penempatan di klitikan berdasarkan luasannya. Sehingga diharapkan ada titik temu,” katanya.

Oktaviatmono mencontohkan secara fisik di blok dua terdapat 16 bangunan dan di dalamnya ada yang mempunyai izin satu, bahkan ada yang dua. Mereka berharap bisa mendapatkan dua kios tetapi itu tidak bisa dilakukan karena kios yang di Penggaron ukurannya 3×3 meter sehingga luasannya 9 meter.

Sedangkan di Penggaron sendiri katanya, kios yang disediakan berjumlah 188 kios dan bisa untuk PKL sesuai dengan luasan mereka. Artinya satu orang dapat satu kios. Tetapi permasalahannya tidak semudah itu dan belum dapat dipastikan apakah nantinya pedagang bisa berjualan.

“Untuk itu harus proporsional dan dilihat luasannya. Bahkan ada yang mempunyai 3 izin tetapi tempatnya berbeda dan mendapatkan 2 tetapi itu situasional dan yang dilihat adalah secara fisiknya,” imbuhnya.

Lurah Rejosari, Rahayuningsih mengatakan pedagang yangberjualan di area Kelurahan Rejosari ini telah dibebaskan retribusi sejak 2016. “Mereka sejak saat itu sampai sekarang sudah dimintai retribusi,” katanya.

Salah seorang pedagang, Slamet mengaku pembagian kios itu dianggap tidak adil karena mereka yang mempunyai tempat dua hanya diberi satu kios.  “Ketidakadilan itulah yang membuat kami merasa kecewa,” katanya seusai mengikuti rapat di Dinas Perdagangan, kemarin.

Slamet mencontohkan dirinya yang memiliki kios sebanyak 3 tempat tetapi dapat pengganti hanya 2 kios yang letaknya bersebelahan. (hid/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here