Oktober 2018, PLTSa Beroperasi

Manfaatkan Sampah TPA Jatibarang

739

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang saat ini masih memasuki tahap awal. Pembangunan ini menjadi terobosan baru pengolahan sampah di Kota Semarang. Proyek di atas lahan seluas 10 hektare di wilayah Bambankerep, Ngaliyan tersebut menelan biaya Rp 71 miliar. Rinciannya, dana hibah dari Pemerintah Kerajaan Denmark Rp 44 miliar, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Rp 18 miliar, dan Pemkot Semarang Rp 9 miliar.

Anggaran tersebut untuk pembuatan Landfill, tempat pengelolaan sampah menjadi gas methan untuk menggerakkan turbin hingga menghasilkan energi listrik dengan kekuatan 1,2 megawatt.

“Saat ini sudah berjalan tahap awal, yakni tahap pengkaferan dan pemasangan instalasi. Ini masih tahap pertama. Setelah itu, penutupan dengan membran. Sembari dicicil untuk pemasangan instalasi pipa-pipa. Nanti ada pengcoveran tahap dua, setelah selesai semua baru nanti mesinnya didatangkan. Ditargetkan Oktober 2018, listrik sudah beroperasi,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Gunawan Saptogiri, Kamis (11/1).

Dikatakannya, pembangunan PLTSa ini dikerjakan oleh kontraktor dari Malaysia. “Anggarannya, bantuan dari Denmark  Rp 44 miliar, dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat membantu membuat zona buang III kurang lebih Rp 18 miliar. Sedangkan tugas Pemkot Semarang menyediakan tanah urug dari sekitar TPA Jatibarang senilai Rp 9 miliar,” bebernya.

Ada dua jenis pembangunan PLTSa di TPA Jatibarang. “Kalau yang ini menggunakan sampah lama, diambil gas methannya. Kemudian listrik akan dijual ke PLN sebanyak 1.3 megawatt. Pengelolaannya nanti kita serahkan ke holding company BUMD. Tapi, untuk yang selanjutnya, kami merencanakan untuk pembakaran sampah, yakni menggunakan inserator. Nanti sampah dibakar habis. Inserator nantinya menghasilkan sekitar 15 megawatt,” katanya.

Gunawan menyebutkan, saat ini produksi sampah di TPA Jatibarang sebanyak 1.200 ton per hari. Sampah yang sudah diolah menjadi pupuk sekitar 250-350 ton per hari. “Sisanya masih dibuang di TPA. Kalau yang diambil gas methan adalah timbunan sampah lama. Nanti diolah menggunakan teknologi menjadi listrik,” jelasnya.

Sebagian sampah itu sudah diolah dan didaur ulang di bank sampah di tingkat kelurahan, termasuk masyarakat yang memilah kemudian dijual. “Sampah di TPA yang dibuat pupuk organik, paling tidak sudah seperempat dari sampah yang ada. Tapi, nanti kalau ada pembakaran sampah untuk energi listrik, maka semua sampah akan dibakar habis untuk menghasilkan energi,” katanya.