Malam Pentas Wayang, Pagi Tetap Berdinas

Bripka Dasuki, Anggota Polri sekaligus Dalang Wayang Kulit

539

Baginya, mendalang adalah menyatukan olah batin dan olahraga. Sebab, mulut harus bicara, tangan menggerakkan wayang, kaki menggerakkan keprak, mata tidak boleh mengantuk, telinga harus mendengarkan gendhing, pikiran harus mampu mengendalikan alur cerita.

“Keenam unsur itu yang saya padukan. Kesulitan saya adalah pengetahuan gendhing saya minim. Jadi, saya hanya modal feeling aja. Misalnya, gendhing ini harus saya berhentikan, saya jatuhkan atau selesaikan di bagian mana, itu feeling saja. Tetapi kalau gendhing-gendhing pokok seperti srepeg, sampak, ayak-ayak dan lain-lain saya kuasai,” paparnya.

Mengenai alur cerita lakon wayang kulit, kata dia, secara umum wayang mengambil cerita dari naskah Mahabarata dan Ramayana. “Ada cerita pakem yang bisa diambil. Misalnya, lakon Mahabarata Kresna Duta, mulai diawali dari jejer mana, sosok Prabu Kresno sebagai duta pamungkas para Pandawa itu seperti apa, sudah ada bukunya. Maka saya harus belajar dengan membaca buku,” katanya.

Tetapi tak dibatasi hanya dengan pakem (standar) tersebut, dalang bisa memainkan lakon carangan (gubahan) atau tidak pakem. “Carangan itu tidak ada dalam kisah Mahabarata. Contohnya, Semar Mbangun Khayangan dan Anoman Maneges, itu jenis lakon Carangan. Untuk jenis lakon Carangan, saya belajar dari menonton video dalang,” ujarnya.

Setelah memahami alur cerita, isi, dan penokohan, ia membuat konsep sendiri untuk kemudian dituangkan di pekeliran. Hingga saat ini puluhan lakon sudah dikuasainya. Sekarang ini setiap pertunjukan wayang perlu diinovasi dan disesuaikan perkembangan zaman.

“Perlu dilihat siapa audiensnya, dari kalangan apa, dan seterusnya. Harus mengerti betul karakteristik masyarakat tersebut, misalnya pentas di desa dan di perkotaan tentu akan berbeda kebutuhan,” katanya.