Malam Pentas Wayang, Pagi Tetap Berdinas

Bripka Dasuki, Anggota Polri sekaligus Dalang Wayang Kulit

512
MELESTARIKAN WAYANG: Bripka Dasuki (dua dari kanan) saat menerima tokoh wayang sebelum mendalang. (kanan) Bripka Dasuki berseragam dinas Polri. (DOKUMEN PRIBADI)
MELESTARIKAN WAYANG: Bripka Dasuki (dua dari kanan) saat menerima tokoh wayang sebelum mendalang. (kanan) Bripka Dasuki berseragam dinas Polri. (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – Tak hanya anggota Polri, Bripka Dasuki juga memiliki aktivitas unik sebagai dalang wayang kulit. Ia belajar mendalang secara otodidak lewat YouTube. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

BRIPKA Dasuki sehari-hari bertugas di bagian staf perencanaan dan Anggaran Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang. Tetapi di luar tugasnya sebagai penegak hukum, ia juga menggeluti seni pedalangan.

Ya, pria asal Desa Pandansari, Kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen ini adalah seorang dalang wayang kulit. Tangannya piawai memainkan wayang. Suaranya bisa berubah-ubah sesuai karakter tokoh wayang yang dimainkan. Kadang menggelora, kadang merdu melantunkan gendhing Jawa.

Orang seringkali tak menyangka kalau dalang tersebut adalah seorang anggota polisi. Namanya memang belum banyak dikenal khalayak secara luas. Namun Dasuki telah malang melintang diundang dari kampung ke kampung untuk pentas wayang kulit. Terutama di kampung-kampung di Kota Semarang dan Kabupaten Semarang.

“Awalnya sekadar hobi, sering menonton pertunjukan wayang. Lama-kelamaan penasaran ingin mencoba bagaimana sulitnya menjadi seorang dalang,” kata Dasuki berkisah kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (11/1).

Dasuki mengaku tidak memiliki guru dalang secara khusus. Termasuk ia juga tidak memiliki darah keturunan dalang di keluarganya. “Hanya saja, ada Pakdhe saya yang juga menjadi dalang. Latihan otodidak, tidak pernah sekolah khusus mendalang ataupun kursus. Belajarnya melalui menonton. Baik menonton pertunjukan wayang secara langsung maupun men-download video melalui YouTube. Terutama menonton rekaman pertunjukan dalang kondang, seperti Ki Manteb Sudarsono, Ki Sigit Ariyanto, dan lain-lain. Tidak ada guru khusus,” ujarnya.

Meski telah belajar seluk beluk wayang kulit cukup lama, yakni sejak 2005 silam, ia baru mulai naik panggung untuk mendalang pada 2011. “Saya belajar ke sana kemari, bertemu dengan Pak Widodo, dosen UNNES, banyak belajar mengenai gendhing Jawa dan sebagainya,” katanya.