Akses Ditutup, Warga Blokade Proyek Tol

678
BAKAR BAN: Puluhan warga Desa Sambungsari melakukan aksi pemblokiran jalan pembangunan Tol Semarang-Batang, kemarin (10/1). (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BAKAR BAN: Puluhan warga Desa Sambungsari melakukan aksi pemblokiran jalan pembangunan Tol Semarang-Batang, kemarin (10/1). (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KENDAL – Puluhan warga melakukan aksi unjuk rasa dengan memblokade pembangunan jalan tol Semarang-Batang. Aksi dipicu lantaran tiga jalan utama Desa Sambongsari yang menjadi akses utama warga untuk beraktivitas akan ditutup tol.

Aksi unjuk rasa dilakukan dengan menutup akses jalan dump truk pengangkut material pengurukan jalan tol. Selain itu warga menghadang truk dan menguasainya dengan cara menduduki dump truk agar tidak beraktivitas sampai tuntutan warga untuk akses jalan desa kembalikan. Aksi juga diwarnai bakar ban bekas dilokasi pembangunan jalan tol.

Warga menuntut agar PT Jasa Marga Semarang-Batang dan PT Waskita selaku pelaksana proyek pembangunan tol Semarang-Batang untuk mengembalikan jalan desa yang sudah ditutup dengan material galian. Akibat aksi tersebut, belasan dump truk yang mengakut material Galian C untuk pengurukan lahan harus terhenti aktivitasnya. Mereka hanya bisa menunggu warga kembali membukakan akses jalan.

Salah seorang warga Munadzirin, 40, warga Sambongsari RT 03/02 mengatakan jika warga sejak awal tidak menolak adanya pembangunan jalan tol. Namun warga hanya menghendaki agar pembangunan tol tidak merugikan rakyat kecil.

“Kami hanya minta agar tiga jalan desa itu dibuka kembali. Tidak harus tiga-tiganya, salah satu saja sudah cukup. Karena jalan ini akses utama warga untuk beraktivitas kembali. Tidak harus tiga-tiganya, salah satu saja sudah cukup. Karena jalan ini akses utama warga untuk beraktivitas sehari-hari,” tuturnya, kemarin (10/1).

Dikatakannya jalan warga tersebut merupakan akses warga untuk ke Masjid, Makam, Sekolah, Puskemas maupun akses jalan desa menuju desa lainnya. “Kalau jalan ini ditutup, yang rugi bukan hanya warga Sambungsari, tapi juga warga desa lain di sekitar Sambungsari,” tuturnya.

Menurutnya jika jalan sampai ditutup, maka untuk bisa sampai ke Masjid, Makam dan sekolah warga harus memutar melalui jalan desa lain yang menempuh jarak sekitar 1-2 kilometer. “Masa mau ke masjid dan makam milik desa sendiri harus lewat desa tetangga?” tegasnya.

Hal senada dikatakan Mahsun, warga lainnya. Ia menambahkan jika warga  sepakat akan melakukan aksi serupa jika tuntutan warga ini tidak dipenuhi. “Tidak hanya bapak-bapak, tapi seluruh warga, ibu-ibu dan anak-anak juga akan ikut aksi demo jika tuntutan kami tidak dipenuhi,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Camat Weleri, Marwoto mengaku jika perwakilan warga sudah melakukan kesepakatan dengan PT Jasa Marga Semarang-Batang dan PT Waskita. Dari pihak Jasa Marga sudah menyanggupi untuk membangunkan akses jalan trowongan bawah jalan tol bagi warga.

Menurutnya akses jalan warga memang sangat dibutuhkan. Perihal berapa lebar akses jalan tol tersebut menurutnya pihak Jasa Marga dan PT Waskita akan melakukan kajian terlebih dahulu. “Baru kemudian nanti PT Waskita yang akan merealisasikannya karena selaku pelaksana pembangunan,” tambahnya. (bud/bas)