“Karena persoalan golongan miskin, bukan hanya karena miskin harta, tetapi juga mental.”

Adi Chandra Pamungkas – Anggota Komisi A DPRD Magelang

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – DPRD Kota Magelang meminta Pemkot selektif untuk mendata warga miskin. Sebab, pendataan ulang sangat berpengaruh bagi kebijakan Pemkot dalam upaya menurunkan jumlah warga miskin.

Sekretaris Komisi A DPRD Kota Magelang, Iwan Soeradmoko, Selasa (9/1) kemarin, meminta petugas Dinas Sosial yang turun ke kelurahan-kelurahan tersebut bisa valid dalam menghitung jumlah warga miskin. “Tadi, kami juga memantau pendataan warga miskin di beberapa kelurahan. Kami juga sampaikan kepada petugas agar cermat mendata.”

Pendataan, sebut Iwan, nantinya bisa dilakukan kroscek ulang, dengan mendatangi langsung warga yang menyatakan dirinya miskin. “Proses ini paling penting, karena yang menentukan kevalidan data warga miskin.” Terlebih, penurunan persentase warga miskin menjadi 6 persen dari semula 9 persen, telah menjadi target Pemkot. “Kita dukung itu.”

Anggota komisi A lainnya, Adi Chandra Pamungkas menambahkan, komitmen Pemkot dalam menurunkan persentase jumlah warga miskin, menjadi perhatian dewan. Kata Adi, permasalahan dalam mengurangi angka kemiskinan, merupakan tugas bersama masyarakat. “Harapannya, dalam pendataan ulang yang dilakukan oleh Dinsos ke kelurahan-kelurahan, bisa melibatkan unsur RT/RW. Namun, terpenting, jangan sampai ada like and dislike dalam pendataan tersebut,” pesan Adi.

Selama ini, sebut Adi, upaya mengurangi jumlah warga miskin, terkendala sikap masyarakat yang menganggap bahwa pendataan untuk tujuan penyaluran bantuan.

Adi mencontohkan di Kelurahan Rejowinangun Utara, begitu ada kegiatan pendataan ulang, maka dianggap sebagai penyaluran bantuan. “Saya tanya ke kelurahan, katanya sejak pukul 05.00, warga banyak yang antre untuk didata. Ada sekitar 150 warga.” Adi justru mewacanakan agar Pemkot memberikan cap bagi warga miskin, dengan menempelkan stiker warga miskin di rumah-rumah mereka.

Adi yakin, upaya ini cukup efektif. “Karena persoalan golongan miskin, bukan hanya karena miskin harta, tetapi juga mental. Penempelan stiker, sebagai upaya membangun kesadaran agar lepas dari jurang kemiskinan.” Stiker bagi warga miskin, sambung Adi, diharapkan menggunakan material berbahan aluminium, sehingga sulit dilepas. “Langkah ini nanti bisa dikaji oleh Pemkot. Kalau tidak salah, di Solo ada stiker seperti itu yang ditempel di rumah warga miskin. Coba nanti kami kaji.”

Kepala Dinsos Kota Magelang, Hardi Siswantono membenarkan bahwa saat ini pihaknya sedang mendata jumlah warga miskin di masing-masing kelurahan. Upaya ini untuk memvalidasi data jumlah warga miskin di Kota Sejuta Bunga.

“Karena data jumlah warga miskin di Kota Magelang, masih menggunakan data tahun 2015, sebagaimana data yang dimiliki oleh Kemensos dalam menyalurkan bantuan ke 4.951 warga miskin di Kota Magelang,” beber Hardi. Terkait wacana penempelan stiker warga miskin, Hardi mengaku belum ada usulan. Namun, dalam pandangan Hardi, usulan tersebut cukup bagus dan mungkin bisa diterapkan. “Coba nanti kita kaji dulu.” (cr3/isk)