Tepergok Nyetrum Ikan, Lari Tinggalkan Motor

530
DITINGGAL KABUR : Petugas Polsek Rembang menaikkan motor yang diduga milik penyetrum ikan ke atas pikap. (DOK HUMAS POLRES PURBALINGGA)
DITINGGAL KABUR : Petugas Polsek Rembang menaikkan motor yang diduga milik penyetrum ikan ke atas pikap. (DOK HUMAS POLRES PURBALINGGA)

RADARSEMARANG.COM, PURBALINGGA – Polsek Rembang Polres Purbalingga mengamankan lima unit sepeda motor berbagai merek yang ditinggal pemiliknya di pinggir kebun wilayah Desa Karangbawang, Kecamatan Rembang, Senin (8/1) malam. Sepeda motor tersebut diduga milik sejumlah orang yang sedang mencari ikan menggunakan alat setrum di Sungai Gintung. Begitu aksinya diketahui warga, para pencari ikan dengan alat terlarang tersebut lari meninggalkan sepeda motor mereka.

“Dibantu warga sekitar lokasi, 5 sepeda motor diangkut menggunakan mobil dinas dan kendaraan bak terbuka untuk dibawa dan diamankan ke Polsek Rembang,” jelas Kapolsek Rembang AKP Ngatijan.

Berdasarkan keterangan kepala dusun setempat Nasrudin, 40, seorang warga mendapati sejumlah orang sedang mencari ikan di sungai dengan alat setrum. Ia lantas memberi tahu warga lain dan berusaha mengamankan orang tersebut.

Namun mereka langsung lari meninggalkan lokasi begitu melihat kedatangan warga. Mereka diduga lari karena takut akan ditangkap. Warga hanya menemukan 5 motor yang diduga milik pelaku. Karena setelah ditunggu, tidak ada yang mengaku sebagai pemilik motor, akhirnya warga melapor ke Polsek Rembang.

Lima sepeda motor yang diamankan adalah Yamaha Mio Soul warna merah dengan nomor polisi L 4686 TL, Yamaha Jupiter Z warna hitam nopol R 2670 DM, Yamaha Mio warna merah nopol B 4978 BIM, Suzuki Satria warna putih hitam tanpa plat nomor dan Yamaha Mio warna merah tanpa plat nomor. Para pemilik motor tersebut bisa mengambil kembali hartanya di Polsek Rembang dengan menunjukkan surat kendaraan.

“Mencari ikan dengan alat setrum melanggar peraturan karena bisa merusak ekosistem dan mengganggu populasi ikan di sungai. Selain itu tindakan mereka bisa merugikan bagi pencari ikan yang dilakukan secara tradisional seperti pemancing dan nelayan yang memakai jaring,” jelas Ngatijan. (jpg/ton)