Tanah Amblas, Warga Enggan Direlokasi

336
AMBLAS : Warga Dusun Bendo menunjukkan beberapa tanah di area permukiman yang terkena dampak tanah amblas, Selasa (9/1) kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AMBLAS : Warga Dusun Bendo menunjukkan beberapa tanah di area permukiman yang terkena dampak tanah amblas, Selasa (9/1) kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Warga terdampak tanah amblas di Dusun Bendo Desa Kandangan Kecamatan Bawen enggan direlokasi. Merasa berat, karena mata pencaharian warga ada dusun tersebut adalah bertani. “Kalau direlokasi kami kerja apa,” ujar salah satu warga terdampak, Jumain, 32, Selasa (9/1) kemarin.

Lahan pertanian di dusun tersebut, kata Jumain, Dusun Bendo yang terdampak paling parah. Posisi rumahnya berada di bawah titik pusat tanah amblas yang merupakan lahan milik PTPN IX. Bahkan rumah orangtuanya, Jumi’in, 56, sudah roboh karena terdampak. “Rumah bapak saya sudah setahun lalu robohnya, karena tanahnya gerak lalu rumah ambruk,” katanya.

Posisi rumah Jumain sendiri berada persis di sebelah rumah Jumi’in yang sudah roboh. Dikatakannya, saat ini Jumi’in menempati rumah anak tertuanya. Dikatakannya, relokasi tidak menyelesaikan masalah.

Rumah semi permanen milik Jumi’in yang berukuran 9×7 meter itu, tahun lalu ambruk lantaran pondasi rumah yang tergerus tanah amblas. Sebagian besar warga terdampak langsung ingin mendapat ganti rugi dari pihak PTPN IX.

Selama ini, warga terdampak hanya memperoleh bantuan berupa uang sebesar Rp 5 juta dari Dana Sosial uluran BPBD Kabupaten Semarang. Sementara pihak PTPN IX hanya memberikan sembako. Itupun hanya sekali.

Jumlah tersebut menurutnya sangat timpang jika dibandingkan dengan risiko yang dihadapi. Dimana saat hujan turun, kedalaman tanah amblas selalu bertambah. “Di teras bagian samping sudalam satu meter tanah yang amblas, ini kalau pas hujan yang mengkhawatirkan,” ujarnya.

Jumi’in yang rumahnya sudah ambruk mengatakan jika opsi yang selama ini diberikan oleh PTPN IX tidak lantas menyelesaikan masalah. Rumahnya yang sudah ambruk sejak kejadian awal tahun lalu seharusnya dipikirkan oleh PTPN IX. “Kondisinya mengancam terutama rumah yang langsung berhadapan dengan titik tanah amblas,” ujar Jumi’in.

Ia pun enggan direlokasi. Dikatakannya selama ini juga belum ada bantuan dari Pemdes Kandangan terkait hal itu. Pemdes hanya menjanjikan akan diusulkan dalam program bedah rumah pada 2018. “Janjinya sih begitu,” katanya.

Apabila direlokasi, warga terdampak rencananya akan pindah ke lahan milik PTPN IX di Desa Jatirunggo Kecamatan Pringapus. “Besaran lahan dari PTPN IX per kepala keluarga juga belum dinsosialisasikan,” katanya.

Saat ini jumlah warga yang terdampak langsung dan berdekatan dengan titik pusat tanah amblas ada 9 rumah. Di antaranya rumah milik Jumi’in yang sudah ambruk, supriyati, 27, supriono, 35, suyoto, 70, joni, 50, hendro, 23, turwanti, 30, saru, 60, kasmim, 70. “Warga mintanya dikasih uang pengganti. Karena warga ingin tetap disini, sawah disini,” ujarnya.

Untuk rumah keseluruhan yang terdampak ada 13. Sementara itu Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kandangan, Harsoyo mengungkapkan meski direlokasi tanah warga masih bersetatus HM warga. “Penempatan di lahan PTPN dimanan nanti rencananya setiap 5 tahun ada pembaharuan perjanjian dengan warga yang menempati,” kata Harsoyo. Dijelaskannya satu KK akan memperoleh satu lahan milik PTPN untuk ditempati. (ewb/ida)

Silakan beri komentar.