Berjuang untuk Kesejahteraan Rakyat Jateng

567
Rukma Setyabudi (ISTIMEWA)
Rukma Setyabudi (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG Ketua DPRD Jateng, Rukma Setyabudi, meminta seluruh masyarakat memahami pentingnya Pancasila sebagai dasar kehidupan bernegara. Sehingga keutuhan NKRI tetap terjaga. Dan patut disyukuri berkah dan ridho Tuhan atas persatuan dan kesatuan sebagai bangsa Indonesia di tengah kemajemukan yang diwarisi. “Tak terkecuali bagi rakyat Jateng yang terus berkembang sebagai kesatuan masyarakat dinamis, tapi tetap hidup dalam kegotong-royongan,” katanya.

Ia menambahkan, berbagai dinamika yang muncul diyakini tidak akan bisa memunculkan perpecahan. Selain itu, spirit gotong-royong terus menyemangati seluruh pemimpin untuk membawa rakyat Jateng ke tingkat kesejahteraan semakin baik. “Momentum HUT PDIP ke-45, semoga tidak akan pernah surut memperjuangkan kesejahteraan rakyat dalam semangat dan nilai kegotong-royongan. Partai ideologis, yakni ideologi Pancasila 1 Juni 1945, sekaligus menjadi rumah kebangsaan bagi Indonesa,”paparnya.

Pancasila bukan ideologi yang dipaksakan Soekarno atau pendiri bangsa. Karena lahir dari nilai, norma, tradisi dan cita-cita bangsa Indonesia, jauh sebelum kemerdekaan. Bung Karno mengaku menggali Pancasila dari harta kekayaan rohani, moral, dan budaya bangsa Indonesia. Pancasila warisan budaya bangsa, jadi jangan pernah melupakan sejarah.

Alhamdulillah, Presiden Jokowi telah menetapkan 1 Juni 1945 sebagai hari lahirnya Pancasila. Secara resmi negara telah mengakui, Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi bangsa Indonesia,” ujarnya.

Politisi PDIP ini menambahkan, Pancasila berisi prinsip dasar. Selanjutnya diterjemahkan dalam UUD 1945 yang menjadi penuntun sekaligus rambu dalam membuat norma-norma sosial politik. Produk kebijakan politik pun tidak boleh bersifat apriori, bahkan harus merupakan keputusan demokratis berdasarkan musyawarah mufakat. Artinya, Pancasila sebagai jiwa bangsa, tidak memiliki sifat totaliter dan tidak boleh digunakan sebagai stempel legitimasi kekuasaan. Sebab, bersifat aktual, dinamis, antisipasif dan mampu menjadi leidstar, bintang penuntun dan penerang, bagi bangsa Indonesia.

“Pancasila selalu relevan dalam menghadapi tantangan sesuai perkembangan zaman, ilmu pengetahuan, serta dinamika aspirasi rakyat. Tapi tentu implementasinya tidak boleh terlalu   kompromistis saat menghadapi sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai dasar yang terkandung di dalamnya,” katanya.