Sawah Warga Terancam Puso

469
DILEBARKAN: Kawasan permukiman di Desa Munggangsari dan Kertojayan Kecamatan Grabag, Purworejo, yang tergenang air setiap hujan deras mengguyur segera terbebas dari genangan dengan beroperasinya alat berat BPBD untuk membuka saluran air yg tersumbat. (IST)
DILEBARKAN: Kawasan permukiman di Desa Munggangsari dan Kertojayan Kecamatan Grabag, Purworejo, yang tergenang air setiap hujan deras mengguyur segera terbebas dari genangan dengan beroperasinya alat berat BPBD untuk membuka saluran air yg tersumbat. (IST)

RADARSEMARANG.COM, PURWOREJO — Areal persawahan warga di tiga desa di Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, terancam puso. Hal itu sebagai dampak areal persawahan dan ladang milik warga yang terendam banjir. Seperti diketahui, banjir merendam 50 rumah penduduk setempat.

Catatan Jawa Pos Radar Kedu, sedikitnya sekitar 70 hektare (ha) lahan pertanian dan palawija di Desa Munggangsari, Pasaranom, dan Kertojayan terendam banjir. Wariso, 56, warga RT 1 RW 3, Desa Munggangsari, Senin (8/1) kemarin mengatakan, genangan air sudah merendam sawah dan permukiman sejak awal Desember 2017 lalu.

Wariso mengakui, daerah permukimannya merupakan wilayah langganan banjir. Banjir kerap melumpuhkan aktivitas penduduk yang sebagian besar petani. “Kalau hujan turun lebih dari tiga jam, pasti banjir. Kami hanya bisa pasrah.”

Kepala Desa Munggangsari, Pujiyanto mengakui, banjir kerap melanda desanya. Penyebabnya, saluran pembuangan atau drainase tidak maksimal. Alhasil, air menggenang di wilayah dataran rendah dan tidak kunjung surut. “Di sini hanya ada satu saluran di sepanjang Jalan Golong Babrik RT 1 RW 3 Desa Munggangsari,” kata Pujiyanto.

Untuk mengatasi hal itu, perlu dibuat saluran pembuangan air yang menghubungkan dua desa. Yakni, Desa Munggangsari dan Kertojayan. Selanjutnya, tembus ke Desa Rejosari dan Dukuh Wetan. Untuk itu, pihak desa sudah berkoordinasi dengan perangkat Desa Kertojayan. Mereka sepakat membuat saluran pembuangan.

“Bagaimanapun juga, solusinya tetap lewat Desa Munggangsari. Jangka panjangnya, saluran pembuangan akan dibuat dari selatan Jalan Daendels ke timur melewati Desa Ketawangrejo sampai ke Kali (sungai) Gawe di Desa Patutrejo.”

Kata Pujiyanto, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Camat Grabag, Ahmad Zaenudin. Camat Zaenudin lantas menggelar pertemuan di Balai Desa Munggangsari. Pertemuan menghadirkan para kepala desa sekitar Munggangsari. Antara lain, Desa Patutrejo, Ketawangrejo, Rejosari, Duduh Wetan, Pasaranom, Kertojayan, Bakurejo, dan Sumberagung.

Hasilnya, teridentifikasi bahwa penyebab banjir karena saluran pembuangan hanya satu dan mampet di gorong-gorong perbatasan Dukuh Wetan-Rejosari. “Jadi, penanganannya harus dilebarkan.”

Masih terkait banjir, di Kabupaten Kebumen, sedikitnya tiga dusun di Desa Adiluhur, Kecamatan Adimulyo, terendam air. Banjir akibat luapan Sungai Turus, sehingga membuat salah satu tanggulnya jebol. Luapan air menerjang kawasan rumah penduduk dan puluhan hektare areal persawahan.

Ketua RT 1 RW 3 Desa Adiluhur, Kasirin, menuturkan, wilayah permukiman warga berada di zona dataran rendah. Sehingga kerap terendam banjir. Penyebab lainnya, banyaknya sungai yang mengepung wilayah tersebut. Banjir merendam sedikitnya 100 rumah penduduk dan jalan di tiga dusun. Puluhan rumah lainnya, dilaporkan terendam hingga 1 meter. (jpg/isk)