Dampak yang Mengintai Lingkungan dan Kesehatan

Sampah elektronik dikategorikan sebagai limbah bahan beracun dan berbahaya (B3). Sebab, sampah tersebut mengandung substansi berbahaya seperti timbal, merkuri, dan kadmium. ’’Komponen-komponen itu merupakan bahan toksik yang diketahui sangat persisten dan dapat terakumulasi di lingkungan serta tubuh manusia,’’ tutur Dewi yang juga merupakan mantan dosen Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Lingkungan

Jika kita membuang alat elektronik begitu aja, semua zat berbahaya yang bersifat toksik di dalamnya akan terserap ke tanah. Akibatnya, zat-zat tersebut juga mencemari air tanah yang kita gunakan sehari-hari. Bukan cuma itu, buangan sampah elektronik di negara-negara besar biasanya dilimpahkan ke negara seperti Ghana, India, Nigeria, dll. Hal tersebut bikin permasalahan sampah di negara-negara itu makin mengkhawatirkan!

Kesehatan

Dalam bidang kesehatan, sampah elektronik juga punya dampak yang nggak main-main. E-waste mengandung hingga 60 elemen dari tabel periodik dalam elektronik yang kompleks. Misalnya, baterai ponsel yang mengandung kadmium (Cd) yang berbahaya buat ginjal dan tulang. ’’Merkuri (Hg) yang digunakan dalam perangkat pencahayaan layar datar bisa mengakibatkan kerusakan pada sistem saraf, ginjal, dan otak. Bahkan dapat diteruskan kepada bayi melalui ASI,’’ tutur Dewi. Ketika dibakar pun, zat tersebut bisa menghasilkan dioksin yang memiliki efek merugikan pada sistem reproduksi dan kekebalan tubuh manusia.

 Kurangnya Perhatian di Indonesia

Meski ada peraturan pemerintah mengenai pengelolaan limbah elektronik di Indonesia, tapi penerapannya kurang maksimal. ’’Sudah ada regulasi terkait dengan limbah elektronik seperti Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Tapi, pengelolaan limbah elektronik di sektor formal maupun informal belum dibahas secara spesifik dalam peraturan itu,’’ ungkap Dewi. So, kesadaran kitalah yang dibutuhkan. Yuk pilih, mau ikut memperparah atau turun langsung jadi ’’pahlawan’’ yang mengatasinya!