Masalah Pelik Sampah Elektronik

647

RADARSEMARANG.COM – LIHAT berbagai data dan angka di atas cukup bikin kamu terkejut nggak? Yep, selama ini perhatian kita tercurah buat mengatasi masalah sampah plastik. Ternyata diam-diam ada potensi pencemaran sampah lain yang sering dilupakan. Sebelum makin terlambat untuk mengatasinya, yuk pelajari apa dan udah separah apa masalah sampah elektronik! Simak juga penjelasan langsung dari Dewi Dwirianti ST MEng, praktisi teknik lingkungan bidang AMDAL dan Solid Waste Management and Sanitation, yang superexpert di bidangnya! (thebalance/scribd/unep/irm/c22/nrm)

Apa sih Sampah Elektronik Itu?

Sama kayak sampah lainnya, sampah elektronik (biasa juga dikenal dengan sebutan e-waste atau e-scrap) merujuk pada benda-benda elektronik yang rusak, usang, atau nggak terpakai. ’’E-waste adalah peralatan elektronik yang dibuang dan tidak digunakan. Termasuk semua komponen, bagian rakitan, dan bahan habis suatu produk,’’ jelas Dewi. Adapun peralatan elektronik yang dimaksud adalah peralatan yang membutuhkan arus listrik atau medan elektromagnet untuk bekerja secara normal.

Kenali Jenis-jenisnya!

Meski sebenarnya sampah elektronik dekat banget sama kehidupan sehari-hari, 58 persen Zetizen malah nggak tahu loh apa e-waste itu. Nah, ada setidaknya delapan kategori jenis sampah elektronik yang dikenal. Pertama, peralatan rumah tangga besar yang terdiri atas kulkas, mesin cuci, dan AC. Kedua, peralatan rumah tangga kecil seperti magic com dan kipas angin. Ketiga, peralatan IT dan alat telekomunikasi seperti handphone.

Selanjutnya, peralatan pencahayaan seperti lampu dan senter juga masuk kategori sampah elektronik loh. Ada juga kategori peralatan listrik dan elektronik seperti TV, komputer, pemutar musik dan film, keyboard, mouse, laptop, serta printer. Alat olahraga, instrumen kesehatan, dan instrumen monitoring seperti CCTV adalah tiga kategori lainnya.

 Separah Apa Kondisinya?

Masalah sampah elektronik saat ini bisa dibilang jadi masalah global yang nggak boleh disepelekan. Asia jadi benua penyumbang e-waste terbesar. Salah satunya disebabkan produksi perangkat elektronik yang superpesat. Tiongkok bahkan tercatat membuang hingga 160 juta perangkat elektronik tiap tahun. Kurangnya pengetahuan memperlakukan alat elektronik bekas makin memperparah masalah tersebut.

Selanjutnya, di Indonesia sendiri, masalah e-waste juga nggak kalah mengkhawatirkan. Di Surabaya yang merupakan salah satu kota terbesar, misalnya, jumlah potensi timbunan sampah elektronik yang dihasilkan rumah tangga pada 2012 rata-rata 3,90 kg/orang/tahun. ’’Jadi, kalau 2017 penduduk Surabaya berjumlah 3.057.766 jiwa, potensi limbah elektronik yang dihasilkan mencapai 11.925 ton/tahun,’’ tutur Dewi. Wow!