BPR Arto Moro Belajar ke Tiongkok

595
STUDI BANDING: Komisaris Utama - Pemegang Saham Pengendali PT BPR Arto Moro Semarang, Dr. H. Subyakto, SH, MH, MM sedang melakukan perjalanan studi banding ke Tiongkok. Bersama istri, Subyakto berfoto di depan Guang Xi Rural Credit Union di Xinjiang, China. (IST)
STUDI BANDING: Komisaris Utama - Pemegang Saham Pengendali PT BPR Arto Moro Semarang, Dr. H. Subyakto, SH, MH, MM sedang melakukan perjalanan studi banding ke Tiongkok. Bersama istri, Subyakto berfoto di depan Guang Xi Rural Credit Union di Xinjiang, China. (IST)

RADARSEMARANG.COM – BERBAGAI upaya manajemen BPR Arto Moro Semarang untuk lebih meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan usahanya, dilakukan dengan melakukan kegiatan studi banding.

Sharing informasi, inhouse training, dan studi banding merupakan cara manajemen untuk meningkatkan kualitas SDM dan kualitas manajemen. Tujuannya, mengembangkan perusahaan dan mencapai pertumbuhan di atas rata-rata sebagaimana pencapaian pertumbuhan aset oleh manajemen baru BPR Arto Moro, dalam kurun dua tahun berturut-turut.

Selain studi banding ke Jepang pada November 2017 lalu, pengurus yang dalam hal ini diwakili oleh Komisaris Utama Dr. H. Subyakto, SH, MH, MM—juga Pemegang Saham Pengendali PT BPR Arto Moro—saat ini tengah melakukan perjalanan ke Tiongkok.

Dihubungi melalui komunikasi saluran telepon internasional, Subyakto mengatakan, rangkaian perjalanan ke Jepang dan Tiongkok merupakan terobosan manajemen untuk lebih menambah ilmu dan pengetahuan serta aplikasi manajemen perbankan. Utamanya, rural bank atau bank perkreditan rakyat.

Menurut Subyakto, ada perbedaan yang khas mengenai rural bank di Jepang dengan Tiongkok. Rural bank di Tiongkok, berkembang kurang lebih dimulai pada tahun 1950-an. Perkembangan dimulai dalam bentuk pemberian fasilitas pinjaman oleh pemerintah kepada kelompok masyarakat di wilayah pedesaan (rural area) tertentu.

Baru sekitar tahun 1970-an, ketika perekonomian Tiongkok tumbuh, mulai ada semacam bank pertanian yang melayani pinjaman dan simpanan kepada masyarakat ataupun kelompok masyarakat di wilayahnya.

“Tetapi, karena terbatasnya dana dari pemerintah, maka muncullah kelompok masyarakat (pengusaha) yang melakukan kegiatan simpan-pinjam melalui sistem gadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang cukup tinggi. Tentu saja kegiatan yang terakhir tersebut sifatnya illegal,” kata Subyakto.

Artinya, lanjut Subyakto, perkembangan rural bank (BPR) di berbagai Negara, ternyata mempunyai ciri khas masing-masing. “Sehingga tidak menutup kemungkinan, kami akan belajar ke India, jika ada kesempatan pada tahun-tahun mendatang.” Yang jelas, lanjut mantan anggota DPR RI itu, menuntut ilmu sangat penting.

“Sebagaimana ajaran agama kita, juga memerintahkan untuk menuntut ilmu sekalipun harus sampai ke negeri China (Tiongkok).” Salah satu wilayah yang perkembangannya bagus adalah wilayah/daerah otonom Xinjiang, dengan penduduknya yang terdiri atas berbagai etnis.

Tahun ini, kata Subyakto, manajemen BPR Arto Moro akan melakukan studi banding ke BPR di wilayah Jawa Barat. Di sana, perkembangan dan pertumbuhan BPR cukup baik, karena didukung dengan strategi dan karakteristiknya tersendiri. “Jajaran direksi, dewan komisaris, segenap staf, dan karyawan, akan mengikuti kegiatan tersebut,” pungkas Subyakto. (isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here