Perkuat Jatidiri dengan Motor Custom

Honda Win 100 Bergaya Cafe Racer

227
TAMPIL BEDA : Vallendra Aditya Putra Rajasa menaiki Honda Win rasa café racer kebanggaannya. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TAMPIL BEDA : Vallendra Aditya Putra Rajasa menaiki Honda Win rasa café racer kebanggaannya. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Bagi sebagian orang, sepeda motor bukan hanya sebagai alat transportasi. Namun juga sebagai bentuk jati diri, seperti Vallendra Aditya Putra Rajasa yang sengaja memodifikasi tunggangan lamanya menjadi lebih eye catching dan tak ketinggalan zaman. Vallen, nama akrabnya menganggap motor custom lebih mencerminkan dirinya dibandingkan membeli motor baru jenis sport.

Bagaimana tidak, Honda Win keluraan tahun 1990 an warisan dari ayahandanya dianggap jadul untuk anak zaman now. Ia pun memilih meng custom motor kesayangannya tersebut menjadi lebih muda dan garang dengan memilih aliran cafe racer classic.

“Untuk anak muda tentu lebih suka motor sport, namun motor sport yang ada di pasaran saat ini cenderung banyak di jalan alias pasaran. Untuk itu saya sengaja melakukan modifikasi motor tua milik saya agar beda denga yang lain dan eksklusif,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang.

Sebelumnya siswa SMAN 12 Semarang ini browsing di internet untuk konsep yang ia pilih. Akhirnya ia kepincut dengan model classic dan coba diaplikasikan ke Honda Win 100 miliknya. Penggabungan antara motor classic dan sport pun menjadi pilihan. Ia pun mempercayakan kepada rumah modifikasi Fucktory Brother milik Catra Bintang. “Bagi saya motor adalah jati diri, bukan hanya tunggangan namun juga digunakan untuk mengeskpresikan diri saya sebagai anak muda,” ujarnya.

Di tangan Catra yang merupakan modifikator syarat pengalaman, Honda Win 100 jadul milik Vallen pun langsung dibongkar secara keseluruhan dan hanya menyisakan rangka serta mesin. Bagian body pun sengaja di custom agar berbeda namun tidak mengesampingkan jiwa muda pemiliknya. “Saya membangunnya dengan menyesuaikan part original di tahun 1990 an, jadi kesannya motor ini tetap original namun custom dan beda dengan yang lainnya,” jelas Catra.

Dari segi kaki-kaki, Catra mengubah velg standar dengan velg jari-jari  ukuran 17 inchi berwarna hitam yang dibungkus ban tapak lebar. Sementara bagian shock belakang menggunakan shock variasi , dan shock depan menggunakan part milik Honda Tiger. Bagian lengan ayun atau swing arm, sengaja dipanjangkan 10 centimeter agar dimensi motor berubah. “Tujuannya adalah motor lebih panjang dan gagah,  sehingga tidak terkesan bantet,” bebernya.

Beralih ke sisi mesin sengaja dibiarkan standar. Namun Catra melapisinya dengan chrome sehingga lebih mengkilat. Frame bagian belakang pun mengalami perubahan menjadi tipe hornet khas cafe racer klasik, sementara bagian tangki menggunakan milik Suzuki A 100 bertipe belimbing. “Bagian frame belakang dibuat hornet, namun di bagian belakang sebelah kanan sengaja dilubangi untuk stop lamp. Sementara bagian lampu sein menggunakan lampu variasi,” jelasnya.

Untuk mempertegas tampilan, Catra mengubah sistem pengereman roda depan menggunakan cakram. Sementara bagian jok menggunakan kulit berwarna cokelat. Tak berhenti disitu, modifikasi selanjutnya merambat pada bagian depan. Catra pun sengaja membuat fairing yang dilengkapi lampu bulat di bagian depan. Terakhir segi pewarnaan, Catra menggunakan dua warna yakni merah dan hitam. Warna merah untuk rangka dan warna hitam untuk bodi. “Sebagai hiasan bagian tangki sengaja dibumbui warna gold dan merah agar terkesan futuristik,” pungkasnya. (den/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here