NDONGKROK: Puluhan armada bus Umbul Mulyo kini mangkrak di garasi yang terletak di Jalan Sukun Raya, Banyumanik, Semarang. Dulu bus ini sempat berjaya dengan menguasai sejumlah trayek di Kota Semarang dan sekitarnya. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
NDONGKROK: Puluhan armada bus Umbul Mulyo kini mangkrak di garasi yang terletak di Jalan Sukun Raya, Banyumanik, Semarang. Dulu bus ini sempat berjaya dengan menguasai sejumlah trayek di Kota Semarang dan sekitarnya. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM– Keberadaan bus kota berukuran ¾ atau dikenal dengan ‘bus tuyul’ dulu menjadi primadona warga Kota Semarang saat bepergian. Hampir semua jalanan protokol Kota Atlas dilewati bus berkapasitas normal 27-33 penumpang ini. Namun sejak beroperasi bus rapid transit (BRT) Trans Semarang pada 2009, dan maraknya transportasi aplikasi online, bus-bus tuyul mulai kehilangan penumpang dan terpinggirkan. Bahkan, tak sedikit yang sudah tidak beroperasi. Armada bus yang sudah reyot pun dibiarkan ndongkrok di pool.

”IKI akiku piye, mben isuk kok kudu mancing sik. Mben esuk otong-otong aki yo lempoh,” keluh seorang sopir tua kepada pengelola PO Minas.

Keluhan tentang kondisi bus, sepinya penumpang, dan hal-hal lainnya menjadi lazim disampaikan para sopir bus. Pendapatan para sopir pun kian hari kian turun. Bahkan bisa jadi, para sopir harus berhutang setoran saking sepinya penumpang.

Kondisi ini sangat jauh berbeda saat bus 3/4 ini masih menjadi primadona di Semarang. Jika muncul keluhan, mungkin keluhan karena saking banyaknya penumpang tak bisa terangkut semua. Bahkan dulu, bus bukan mencari penumpang, justru penumpanglah yang rela antre menunggu kedatangan bus yang sempat mencapai puncak kejayaan pada 2000-an hingga sebelum diluncurkannya BRT Trans Semarang pada 2009.

Bus Nasima dulu menguasai sebagian besar trayek di Semarang. Saat itu, bus ini melayani trayek Terboyo-Bandungan, Terboyo-Ambarawa, Terboyo-Gedawang, Terboyo-Gunungpati, Terboyo- Boja, Terboyo- Penggaron, Terboyo- Elisabeth, PRPP- Klipang, dan PRPP-Bukitsari. Sempat juga membuka trayek Terboyo- Pringapus Kabupaten Semarang.

Namun dari sejumlah trayek yang pernah dilewati roda-roda kekar bus ini, sekarang tinggal satu taryek yang masih tersisa. Yakni, taryek Terboyo-Elisabeth. Itupun sekarang sudah sepi penumpang. Karena para awak bus harus bersaing dengan primadona baru angkutan masal sekarang, BRT Trans Semarang.