Fokus Pelestarian Budaya

Desa Timpik, Kecamatan Susukan

600
KOLOSAL: Anak-anak Desa Timpik saat berlatih tarian kolosal di aula balai desa setempat, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KOLOSAL: Anak-anak Desa Timpik saat berlatih tarian kolosal di aula balai desa setempat, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Menjaga kelestarian budaya saat ini menjadi fokus Desa Timpik Kecamatan Susukan. Pemikiran tersebut muncul dari Kepala Desa Timpik, Syuhada. Bentuk peletarian budaya tersebut yaitu dengan berdirinya sanggar tari.

Dijelaskan Syuhada, sanggar tari yang didirikannya tersebut saat ini diikuti oleh ratusan anak-anak dari desa setempat. Berbagai jenis tarian di ajakan dalam sanggar tari tersebut, mulai dari tari gambyong hingga tari peperangan.“Sudah hampir 2 tahun ini sanggar tari desa ini berdiri,” ujar Syuhada, Sabtu (6/1).

Adapun pengajar tari tersebut diambilkan dari pihak luar. Anak-anak yang mengikuti sanggar itupun tidak dipungut biaya sepeserpun. Menurut Syuhada, dalam hal ini ia hanya ingin warisan budaya leluhur yaitu seni tari tidak hilang dimakan waktu. Ia prihatin melihat perkembangan budaya luar di tanah air saat ini. Dimana perlahan-lahan budaya luar tersebut menggeser budaya lokal.

Padahal budaya lokal memiliki nilai yang tinggi. “Sejak smartphone mudah dimiliki setiap orang, anak-anak jadi ketularan dan tidak sedikit dari anak-anak yang menjadi individual karena hal itu,” katanya.

Padahal, lanjutnya, budaya lokal memiliki nilai yang tinggi. Ia mencontohkan budaya tari yang dikembangkan oleh pihaknya saat ini. Budaya tari kolosal menurutnya, dapat membuat anak menjadi tidak individual.

Mereka dapat berkumpul mengenal satu sama lain baik itu saat latihan menari maupun saat pentas. “Mereka jadi anak-anak yang tidak penyendiri dan suka bergaul dengan sesama, itu yang kita inginkan,” ujarnya.

Budaya berkumpul menurutnya, merupakan warisan leluhur. Ia ingin memberikan pendidikan budaya tersebut melalui sanggar tari yang ia dirikan ebrsama dengan Pemdes Timpik. Diakuinya, saat awal mula mendirikan, pro dan kontra juga sempat bermunculan.

Banyak dari orang tua yang beralasan sanggar tari akan semakin memberatkan anak karena menyita waktu. Hal itu kemudian ia tepis setelah bermusyawarah dengan Pemdes setempat dan mendirikan sanggar tari.

Setiap latihan, sanggar tari Desa Timpik menggunakan aula balai desa. Selain itu, Pemdes setempat juga menyediakan atribut tarian seperti pedang-pedangan yang terbuat dari kayu serta kostum tari yang dibelikan oleh Pemdes setempat. (ewb/bas)