YA DOKTER YA POLITISI : dr Sugeng Ibrahim memilih mengabdi kepada masyarakat dengan menjadi dokter sekaligus politisi. (Nurchamim/jawa pos radar semarang)
YA DOKTER YA POLITISI : dr Sugeng Ibrahim memilih mengabdi kepada masyarakat dengan menjadi dokter sekaligus politisi. (Nurchamim/jawa pos radar semarang)

RADARSEMARANG.COM – Berjiwa sosial, tak ada yang menyangka dari situlah titik awal bagi dr Sugeng Ibrahim akhirnya terjun ke dunia politik. Tidak tanggung-tanggung, awal karirnya sejak tahun 2004 ia mulai memperjuangkan rakyat dengan menjadi anggota DPR dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Kepada Jawa Pos Radar Semarang ia mengatakan, orang paling berpengaruh pada keputusannya berpolitik adalah (alm) KH Cholil Bisri.

“Waktu itu ditanya sama beliau, kowe gelem dadi anggota DPR ya. Kemudian saya jawab, lha kulo niki kan dokter bah, nek kulo mboten praktek mangke nafkahe dospundi,” kenangnya saat ditemui, Kamis (4/1).

Kemudian ia diberi jawaban oleh Kiai Cholil tentang ilmu emprit yang mana intinya adalah terkait rezeki hingga makan semuanya sudah ada yang menata. Hingga akhirnya memantapkan dirinya maju sebagai kader PKB bersama dengan Gus Yaqut. Ia menegaskan, bahwa keinginannya untuk bermanfaat bagi sesama tidak cukup hanya dilakukan dengan profesi sebagai dokter.

Selama 2004 hingga 2009 dirinya menjadi anggota DPR, namun pada tahun 2010 ia mulai bergabung dengan Nasdem yang saat itu belum menjadi partai. Diakuinya, dengan latar belakang sebagai dokter tidak memungkiri bahwa politik baru dipelajarinya saat mulai bergabung dengan PKB.

“Tetapi kemudian saya keluar bukan karena anti PKB, tapi ada beberapa hal yang kemudian membuat saya merasa klik dengan Nasdem. Sebab antara pikiran, perbuatan dan perkataan itu berjalan sejajar,” jelas alumni SMPN 3 Semarang itu.

Gus Dur, Syafii Ma’arif, Mahfud MD hingga Gus Mus adalah sederet tokoh yang menjadi panutan Sugeng dalam berpolitik. Menurutnya, meski sampai saat ini politikus selalu mendapat stigma negatif dari masyarakat, tidak lantas membuatnya gentar. Bagi dia, politik menjadi salah satu cara untuk membuat hidupnya lebih berfaedah.

“Saya selalu memegang apa yang disampaikan Kiai Cholil, Sopo Temenanan Bakal Tinemu. Kalau dalam bahasa Arabnya itu Man Jadda Wa Jadda. Makanya saya sungguh-sungguh menekuni dunia politik untuk Indonesia yang lebih baik,” ungkap Ketua Bappilu Partai Nasdem Jawa Tengah ini.

Pria kelahiran Tulungagung, 14 Desember 1963 ini mengakui sebelum akhirnya terlibat dalam dunia politik, perekonomiannya telah sangat cukup. Namun, menjadi dokter dengan hanya menolong orang ketika sakit, memberikan santunan jika pasiennya tidak mampu itu tidak banyak mengubah.

“Itulah akhirnya saya menyadari bahwa politik itu ladang pengabdian. Tapi saya beri tips bagi siapa saja yang ingin berpolitik, haruslah sudah selesai dengan nafkah. Sehingga nantinya tidak ada yang menjadikan politik sebagai profesi dan mengambil untung dari situ,” tegasnya.

Memiliki cita-cita untuk memperbaiki citra politikus, Sugeng menganggap hal tersebut tidak mudah. Dirinya juga tidak menutup mata akan selalu ada orang-orang yang melakukan politik praktis. Namun, jika orang baik mau mulai untuk tidak skeptis terhadap politik, maka politik tidak lagi dikuasai orang tidak bertanggung jawab.

“Maka sebenar-benarnya masyarakat akan dibela adalah oleh para politikus yang sadar bahwa dalam politiklah ladang amal itu ada. Ladang pengabdiannya itu nyata, ya di politik ini,” katanya. (tsa/ric)