Andika Cahya Ari Wibowo MPd (IST)
Andika Cahya Ari Wibowo MPd (IST)

RADARSEMARANG.COM – PENGUASAAN kosakata (vocabulary) merupakan prasyarat utama dalam pembelajaran bahasa Inggris. Tanpa terkecuali bagi pembelajaran bahasa Inggris di sekolah kejuruan (SMK). Terlebih dalam pembelajaran bahasa Inggris di SMK yang berbasis teknologi dan rekayasa akan banyak dijumpai istilah-istilah teknis (technical terms) terkait peralatan dan bahan praktikum yang penting sekali untuk dikuasai oleh peserta didik. Hal ini sebagai antisipasi apabila peserta didik tersebut kelak berkesempatan untuk bekerja ke luar negeri. Dengan mengetahui nama-nama peralatan yang mereka pakai dalam bahasa Inggris tentu akan sangat membantu kelancaran pekerjaan mereka di luar negeri kelak.

Vocabulary terkait technical terms tersebut tentulah bukan barang yang mudah untuk dikuasai oleh siswa – siswa SMK. Hal ini dikarenakan mereka belum pernah mempelajari vocabulary ini pada jenjang pendidikan sebelumnya (SMP).

Kekhasan vocabulary pada pembelajaran bahasa Inggris di sekolah kejuruan ini tampaknya belum mendapat cukup perhatian dari para praktisi pendidikan. Ini dibuktikan dengan minimnya kamus – kamus teknik yang beredar. Idealnya terdapat kamus teknik yang secara khusus merujuk pada tiap kompetensi keahlian di sekolah kejuruan. Tentunya hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para guru bahasa Inggris di sekolah kejuruan. Guru bahasa Inggris di SMK diharapkan mampu berkreasi dalam mengajarkan vocabulary terkait technical terms tersebut.

Salah satu strategi untuk pengajaran vocabulary terkait technical terms di SMK adalah melalui collaborative teaching (CT). CT melibatkan dua atau beberapa guru untuk bekerja sama dalam mendidik dan meningkatkan skill siswa pada kompetensi tertentu. Kolaborasi yang dimaksud, terkait dengan pengajaran vocabulary di atas bisa melibatkan guru kompetensi keahlian dan guru mata pelajaran bahasa Inggris.

Guru kompetensi keahlian dapat memberikan informasi terkait technical terms yang perlu dikuasai siswa sesuai dengan kompetensi keahliannya. Guru mata pelajaran Bahasa Inggris bertugas untuk mengalih bahasakan technical terms tersebut dalam bahasa Inggris. Guru kompetensi keahlian berkewajiban memastikan penggunaan technical terms berbahasa Inggris tersebut selama kegiatan praktikum. Di samping bertugas mengalih bahasakan technical terms tersebut, guru mata pelajaran bahasa Inggris bersama siswa berkewajiban untuk melakukan brainstorming dan review.

Selanjutnya hal yang tidak kalah penting dan tidak boleh luput dari perhatian guru bahasa Inggris adalah kapan waktu terbaik untuk mengajarkan (brainstrorming) vocabulary. Banyak praktisi pendidikan bahasa yang beranggapan bahwa vocabulary idealnya dipelajari pada tahapan pendidikan dasar (SD dan SMP). Sehingga banyak yang beranggapan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris pada tahapan pendidikan menengah (SMA/SMK) idealnya lebih ditekankan pada aspek komunikasi dan tata bahasa. Seolah melewatkan anggapan bahwa hal yang paling mendasar dari komunikasi adalah vocabulary itu sendiri. Walaupun dalam konteks dan bagi individu tertentu vocabulary bisa dikuasai melalui interaksi.

Sebenarnya brainstrorming vocabulary bisa dilakukan pada setiap tingkat (kelas) dan tahapan (SD, SMP, SMA/SMK) pendidikan. Brainstorming vocabulary umumnya dilakukan pada siklus kebahasaan reading (membaca). Walaupun tidak menutup kemungkinan untuk diajarkan pada waktu siklus speaking (berbicara), writing (menulis) bahkan listening (berbicara).

Trusler, kontributor ESL library, menegaskan bahwa brainstorming vocabulary dapat dilakukan pada siklus kebahasaan reading baik sebelum, selama atau setelah aktivitas membaca. Apabila dilakukan sebelum aktivitas membaca siswa akan mendapatkan manfaat antara lain: pertama, aktivitas membaca akan lebih bermakna. Kedua, siswa tidak perlu berhenti selama aktivitas membaca hanya untuk melihat arti kata yang tidak diketahui.

Apabila dilakukan selama aktivitas membaca siswa dapat: pertama, mengetahui arti dari kosa kata (vocabulary) baru dari konteks. Kedua, menyadari bahwa dalam memahami teks bacaan mereka tidak perlu mengetahui arti dari setiap kata yang ada. Ketiga, mengetahui fungsi dan hubungan antara satu kelas kata dengan kelas kata yang lain. Dan apabila dilakukan setelah aktifitas membaca siswa dapat: pertama,  lebih paham apabila ada tugas terkait dengan vocabulary. Kedua, merefleksi seberapa baik penguasaan vocabulary mereka. Ketiga, melihat kembali vocabulary tertentu di dalam teks (konteks) jika mereka kesulitan dalam memahami artinya. (*/aro)

Guru Bahasa Inggris SMK Negeri  1 Jepon