RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Rencana pemindahan Pedagang Kaki Lima (PKL) Barito di Kelurahan Rejosari, Kecamatan Semarang Timur ke Pasar Klithikan Penggaron, yang sedianya dilakukan kemarin, tertunda. Penundaan tersebut terjadi karena sinkronisasi data dan luasan lapak PKL belum selesai dilakukan.

“Sudah kami kumpulkan semua untuk sinkronisasi terkait data dan luasan. Karena pedagang disana ada yang punya tiga, dua, maupun satu kios. Sehingga ini perlu kami kroscek dulu di masing-masing kelompok. Pedagang menghendaki pindah bareng-bareng,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, Jumat (5/1).

Pihaknya mengaku telah melakukan koordinasi dan sosialisasi. Diperkirakan minggu depan relokasi akan dilakuakan. Ada tiga kelompok pedagang, yakni di Kelurahan Rejosari, Bugangan, dan Mlatiharjo. “Tadi pagi (kemarin) kami sudah ketemu dengan ketua paguyuban pedagang dan pengurus di Kelurahan Karang Tempel, mereka juga sudah siap untuk direlokasi,” katanya.

Dalam waktu dekat, pihaknya akan kembali mengecek lokasi Pasar Klithikan Penggaron untuk memastikan daya tampung. “Karena memang kami butuh kepastian orang yang pindah, karena nanti apabila tidak tertampung, akan kami tempatkan di Pasar Banjardowo,” katanya.

Penundaan tersebut tidak ada masalah dengan pertimbangan mereka memilih relokasi bersama-sama. “Memang awal Januari seharusnya sudah mulai pindah. Sebagian PKL memang ada yang meminta pindah dulu, karena khawatir malah berlarut-larut,” ungkapnya.

Mengenai aspirasi dari Paguyuban Pedagang Barito, kata Fajar, apabila lahan di Pasar Klithikan mencukupi, mereka menyampaikan akan membangun kios tambahan bersama PKL-PKL lain dengan ukuran masing-masing 3 x 4 meter persegi.

“Kalau mau membangun sendiri, menata sendiri ya monggo. Memang di Pasar Klithikan masih ada lahan kosong. Kalau mau dibangunkan melalui anggaran APBD itu nanti di anggaran perubahan. Besok Senin, kami akan cek lokasi, mereka akan melakukan pengukuran sendiri,” katanya.

Sementara Camat Gayamsari, Didik Dwi Hartono mengatakan, hingga saat ini penghuni rumah liar di bantaran Sungai Banjir Kanal Timur terutama di wilayah Kecamatan Gayamsari sudah ada yang direlokasi. “Kurang lebih ada 50 rumah di Kelurahan Tambakrejo dipindahkan ke Rusunawa Kudu. Tetapi kalau untuk PKL belum dilakukan relokasi,” katanya.

Dikatakannya, warga yang terdampak pembangunan normalisasi sungai Banjir Kanal Timur di wilayah Gayamsari cukup banyak. Yakni kurang lebih 1.000 warga, baik PKL maupun penghuni rumah liar. “Sudah dilakukan sosialisasi kesekian kali, tidak ada masalah. Selanjutnya ini nanti akan dilakukan sosialisasi mengenai pengukuran di lokasi. Jadwalnya masih menunggu dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS),” katanya.

Tahapan selanjutnya adalah relokasi PKL dan rumah hunian di bantaran Banjir Kanal Timur, terutama di wilayah Kecamatan Gayamsari. “Warga yang terkena dampak di Kecamatan Gayamsari, yakni di Kelurahan Pandean Lamper, Sambirejo, Sawah Besar, Kaligawe, Tambakharjo,” katanya. (amu/hid/ric)