Kerajinan Tangan Jadi Identitas Desa

Desa Plumutan, Kecamatan Bancak

1259
PERAJIN: Salah satu perajin kerajinan rogo rege di Desa Plumutan Kecamatan bancak tengah sibuk menganyam lidi, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PERAJIN: Salah satu perajin kerajinan rogo rege di Desa Plumutan Kecamatan bancak tengah sibuk menganyam lidi, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Piring yang terbuat dari lidi kelapa sering kita jumpai di berbagai restoran maupun rumah makan pinggiran. Selain harga per-bijinya yang cenderung lebih murah dan artistik, ketahanan dari piring dari anyaman lidi tersebut memang tidak diragukan lagi.

Oleh karenannya banyak pengusaha restoran atau rumah makan yang lebih memilih menggunakan barang tersebut. Piring dari anyaman lidi tersebut merupakan hasil kerajinan yang disebut dengan rogo-rege.

Rogo-rege merupakan sebuah nama hasil kerajinan warga Desa Plumutan Kecamatan Bancak dari lidi pohon kelapa yang di anyam sedemikian rupa membentuk piringan. Saat ini tidak banyak yang masih memproduksi kerajinan tersebut. Selain populasi pohon kepala dan aren yang semakin berkurang, kendala pemasaran kerap dihadapi oleh perajin tersebut.

Hampir semua warga di Desa tersebut memproduksi rogo-rege. Selain sebagai mata pencaharian sehari-hari, mereka seolah ingin menunjukkan sebuah identitas Desa melalui kerajinan itu.

Salahsatu pengrajin terbesar rogo-rege di Desa Plumutan yaitu Slamet Budiyanta. Ratusan rogo-rege ia produksi setiap harinya. Menurutnya, banyak hal yang dapat dijadikan pelajaran dalam produksi rogo-rege.

Meski belum mengetahui secara pasti kapan dan siapa pembuat kerajinan tersebut pertama kali. Slamet sudah bertahun-tahun bergelut bisnis kerajinan tersebut. menurutnya, kondisi pasar rogo-rege cenderung stabil. Jika dibandingkan dengan kerajinan tangan yang lain. “Sudah bertahun-tahun memproduksi kerajinan ini,” kata Slamet, Jumat (5/1).

Proses pembuatan kerajinan tersebut sebenarnya cukup mudah.yaitu, satu bongkok lidi daun kepala atau aren di anyam melingkar. Hingga menyerupai sebuah piring. “Setelah itu diberi pelapis berupa cairan agar tidak mudah patah dan lebih awet,” katanya.

Barulah, setelah dianyam dan diberi pelapis hasil kerajinan dijemur di bawah terik matahari. Iklim tropis yang ada di Indonesia sebenarnya menguntungkan para perajin tersebut. Ketersediaan bahan baku dan cuaca panas membuat kerajinan itu mduah untuk diproduksi.“Kalau tidak dijemur dengan suhu panas maka pelapis tidak akan bisa melapisi secara maksimal. Akhirnya, bisa tidak awet,” tutur Slamet.

Dalam sehari ,slamet memproduksi ratusan rogo-rege. Perbijinya ia bandrol dengan harga Rp 2.500. Kini karena populasi pohon kelapa di Kabupaten Semarang yang semakin menipis membuat ia sedikit kesulitan untuk memperoleh bahan baku. Untuk itu ia mendatangkan bahan baku lidi dari luar kota. Secara tidak langsung hal tersebut membuat cost produksi menjadi sedikit naik.

Kades Plumutan, Suji Haryanto berpendapat jika kerajinan tersebut juga akan dikenalkan ke masyarakat luas sebagai bagian dari destinasi wisata. Jumlah pengrajin yang hampri 80 persen dari jumlah keseluruhan warga membuat kerajinan tersebut potensial untuk dikenalkan masyarakat luas.“Wisatawan nantinya juga bisa belajar bagaimana membuat kerajinan ini. Dimana sebenarnya membuatnya tidak sulit,” ujarnya.

Meski begitu, ia tetap berharap peran dari pemerintah Kabupaten Semarang untuklebih mempromosikan rogo-rege sebagai produk lokal yang mampu berbicara di pasar luar. (ewb/bas)