Hendi Kembali Pelopori Gerakan Jarik Masjid

348
JAGA KERUKUNAN : Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat mengikuti kirab Hari Santri Nasional bersama para kiai dan ulama Kota Semarang dari TMP Giri Tunggal ke Simpang Lima. (DOKUMENTASI HUMAS PEMKOT)
JAGA KERUKUNAN : Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat mengikuti kirab Hari Santri Nasional bersama para kiai dan ulama Kota Semarang dari TMP Giri Tunggal ke Simpang Lima. (DOKUMENTASI HUMAS PEMKOT)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Memasuki 2018, banyak pihak memproyeksikan tahun ini sebagai tahun politik. Hal ini seiring dengan digelarnya Pilkada serentak di 171 daerah yang terdiri atas 17 provinsi, 39 kota, serta 115 kabupaten. Dan terkait hal tersebut, sangat dimungkinkan bila sentimen SARA melalui isu hoax akan kembali bermunculan dalam rangka menggiring opini masyarakat kepada kepentingan politik tertentu.

Karena itu, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi meminta kepada masyarakat di Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang untuk mampu bersama-sama meningkatkan kewaspadaan dan kepedulian agar tidak mudah terpancing isu-isu yang dapat mengganggu kondusivitas wilayah. Hal ini mengingat Provinsi Jawa Tengah juga menjadi satu dari 17 provinsi yang akan menyelenggarakan Pilkada.

Hendi –sapaan akrab Hendrar Prihadi—menegaskan, kondusivitas wilayah yang tidak terjaga dapat berdampak buruk pada perekonomian di Jateng, termasuk Kota Semarang. Untuk itu, dirinya meminta agar setiap masyarakat dapat berpartisipasi aktif untuk saling mengingatkan serta dapat lebih menahan diri memasuki 2018 ini.

“Intinya kegiatan-kegiatan yang positif harus ditingkatkan, sehingga tidak ada celah bagi pihak-pihak yang ingin memprovokasi. Misalnya, kalau di Kota Semarang yang sudah berjalan adalah dengan kegiatan Jarik Masjid yang akan kami tingkatkan lagi,” kata Hendi.

Jarik Masjid sendiri merupakan singkatan dari Jumat Resik-Resik Masjid. Sebuah gerakan partisipasi masyarakat yang dipelopori Hendi pada 2017. Melalui gerakan tersebut, Hendi mengajak seluruh masyarakat di Kota Semarang untuk membersihkan masjid serta musala setiap Jumat. Kegiatan itu juga menjadi salah satu upaya Hendi untuk meningkatkan komunikasi antar masyarakat di Kota Semarang.

Menariknya, tak hanya masyarakat muslim saja, masyarakat non muslim pun juga turut berpartisipasi dalam gerakan ini. Hendi pun turun langsung berkeliling ke masjid-masjid dan musala yang ada di Kota Semarang. Tercatat, sepanjang 2017, gerakan Jarik Masjid telah dilakukan di 708 masjid dan musala yang ada di Kota Semarang.

“Harapannya tentu saja kegiatan positif seperti Jarik Masjid ini dapat diduplikasi di daerah lain, sehingga tidak hanya terbatas di Kota Semarang,” harapnya.

Dengan gerakan Jarik Masjid yang berjalan pada 2017, Kota Semarang menjadi contoh daerah yang berhasil menjaga kondusivitas wilayah di tengah perbedaan masyarakatnya yang sangat majemuk.

Sebagai wali kota, Hendi dinobatkan sebagai ‘Pembina Kerukunan Umat Beragama’ oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin di Hotel Lor Inn Solo pada 2017 lalu. (*/zal)

Dinobatkan sebagai Pembina Kerukunan Umat Beragama