Desa Penghasil Kerajinan Tenggok

Desa Karang Tegaron, Kecamatan Banyubiru

536
EKSIS: Beberapa warga Karang Tegaron yang masih eksis memproduksi kerajinan Tengok hingga kini, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
EKSIS: Beberapa warga Karang Tegaron yang masih eksis memproduksi kerajinan Tengok hingga kini, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Kerajinan tenggok yaitu keranjang yang terbuat dari anyaman bambu di Kabupaten Semarang terancam punah. Pasalnya, minimnya ketersediaan bahan baku menjadi faktor penyebabnya.

Salah satu perajin tenggok yang hingga kini masih eksis Kodiran, 52, mengatakan minimnya ketersediaan bahan baku disebabkan populasi bambu yang semakin sukar di dapatkan.“Karena banyaknya pembukaan lahan mejadi perumahan. Selain itu, bambu saat ini dinilai sebagai tumbuhan hama. Sehingga banyak yang dibakar dan di potongi,” ujar warga Desa Karang Tegaron Kecamatan Banyubiru, Jumat (5/1).

Desa Karang Tegaron dulunya dikenal sebagai desa penghasil kerajinan Tenggok terbesar di Kabupaten Semarang. Namun minimnya bahan baku membuat bebrapa pengrajin Tenggok di desa tersebut gulung tikar.

Selain minimnya bahan baku, model pemasaran yang masih tradisional juga menjadi faktor banyaknya pengrajin yang gulung tikar. Selain Kodiran, warga lain yang hingga kini masih eksi memperoduksi kerajinan tersebut yaitu Murjiyah, 48.

Murjiyah sudah bergelut dengan kerajinan tersebut selama belasan tahun. Ia memasarkan kerajinan tersebut hanya mengandalkan segi pesanan dari pelanggan. Maklum, kondisi Murjiyah yang memiliki keterbatasan fisik karena memiliki kendala dengan penglihatan membuatnya sulit untuk berjualan keluar desa.“Hanya mengandalkan pembeli datang kerumah. Alhamdulillah sudah bertahan selama belasan tahun,” ujarnya.

Ia juga mengakui jika saat ini bahan baku kerajinan tersebut semakin sulit di dapat. Untuk membuat kerajinan tersebut ia harus mendatangkan bahan baku dari daerah lain. Satu hasil kerajinan kebanyakan dihargai Rp 20 ribu. Susahnya bahan baku sehingga harus mendatangkan dari daerah lain, totmatis membuat biaya produksi meningkat.“Namun harganya tetap. Kalau dibuat mahal bisa tidak laku. Lha kalau tidak laku mau makan apa,” katanya.

Kerajinan Tenggok merupakan ikon dari desa Karang Tegaron Kecamatan Banyubiru. Warga setempat berharap ada perhatian khusus dari pemerintah Kabupaten Semarang. Sehingga, kerajinan tersebut tidak lantas punah. “Ini bisa juga menjadi oleh-oleh khas Kabupaten Semarang,” katanya.

Tokoh masyarakat sekaligus pelopor desa wisata Karang Tegaron, Luluk Arisanto mengatakan peran pemerintah setempat dalam hal pemasaran sangat diperlukan.“Pemasaran hanya dari mulut ke mulut dan pasar tradisional. Apabila Pemkab Semarang ikut membantu memasarkan keluar, pastinya akan sangat membantu perekonomian warga setempat dan kerajinan ini tidak punah,” katanya. (ewb/bas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here