25.3 C
Semarang
Jumat, 13 Desember 2019

Simbol Kontribusi Warga Tionghoa di Bidang Kesehatan

Ravando Lie, Telisik Sejarah Berdirinya Poliklinik di Indonesia

Must Read

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden...

RADARSEMARANG.COM – Keberadaan etnis Tionghoa di Indonesia tak bisa dihapus dari perjalanan sejarah. Etnis Tionghoa juga memiliki andil dalam berbagai bidang. Tak hanya bidang ekonomi, tetapi juga dalam bidang kesehatan. Salah satunya adalah layanan poliklinik yang telah muncul di era Kolonial Belanda. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

TEKAD pria berusia 29 tahun itu menelisik berbagai bidang sejarah di Indonesia. Salah satunya adalah mengenai sejarah poliklinik di Indoensia. Jejak sejarah layanan kesehatan melalui poliklinik ini tak terlepas dari peran ahli kesehatan dari masyarakat etnis Tionghoa pada masa Kolonial Belanda.

Peneliti muda itu adalah Ravando Lie. Ia mengurai sejarah perkembangan munculnya poliklinik yang diprakarsai oleh etnis Tionghoa. Di antaranya, Poliklinik Jang Seng Ie di Batavia Desember 1924, dan Lang Tjhwan Tiong Hwa Ie Wan berdiri 16 November 1925 di Gang Gambiran, Semarang.

Selain itu, Soe Swie Tiong Hwa Ie Wan di Surabaya pada Oktober 1927, Tiong Hwa Ie Isa di Malang pada Oktober 1929, dan Hua Chiao Tsing Nien Hui (HCTNH) Tsi Sheng Yuan di Surakarta pada Januari 1933.

“Jejak poliklinik ini merupakan simbol dari kontribusi masyarakat Tionghoa bagi perbaikan sektor kesehatan,” kata Ravando saat mengisi sebuah acara di Kota Semarang belum lama ini.

Banyak warga Tionghoa mendedikasikan hidup di bidang kesehatan. Di Semarang sendiri, pendirian Poliklinik Tionghoa Semarang salah satunya dilatarbelakangi merebaknya sejumlah penyakit seperti kolera, disentri dan tipus. Bahkan penyakit-penyakit tersebut telah muncul sejak 1901 silam, dan tak kunjung bisa diatasi menggunakan ilmu kesehatan.

Dalam buku karya Liem Thian Joe berjudul Riwayat Semarang, diterangkan kebersihan kota kala itu terbilang sangat buruk. Tumpukan sampah di mana-mana, kebutuhan air bersih untuk dikonsumsi kekurangan. “Masyarakat Tionghoa di Semarang menimbang alasan kemanusiaan agar bisa berperan membantu permasalahan di tengah masyarakat. Didirikanlah poliklinik untuk berupaya membantu mengakomodasi permasalahan ini,” kata pria kelahiran Jakarta, 3 Juni 1988 ini.

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di timurnya. Kota yang di barat itu,...

Rombak Kurikulum

Reformasi besar-besaran. Di bidang kurikulum pendidikan. Itulah instruksi Presiden Joko Widodo. Kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Kemarin. Kata 'reformasi' saja sudah sangat ekstrem. Apalagi...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -